Melalui adanya empat pilar tumpuan komunikasi, Universitas Lampung terus perkuat tata kelola krisis, membangun hubungan dengan publik, dan menjaga reputasi perguruan tinggi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Setiap institusi tidak bisa lepas dari risiko krisis. Termasuk perguruan tinggi yang kerap diliputi isu soal kekerasan seksual, konflik internal, kebijakan institusi, dan hal-hal lain yang di era media sosial seperti sekarang bisa dengan mudah memengaruhi reputasi. Oleh karena itu, Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Lusmeilia Afriani menyebut, peran humas atau public relations (PR) menjadi semakin strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga kepercayaan publik, reputasi institusi, dan keberlanjutan organisasi.
Dalam paparannya pada Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Manajemen Krisis Perguruan Tinggi di Era Digital yang digelar HUMAS INDONESIA, Rabu (22/7/2026), di Gedung Soebono Mantofani, Komplek Kantor Pusat Perum Peruri, Jakarta Selatan, Prof. Lusmeilia menjelaskan, untuk menghadapi segala potensi risiko tersebut strategi komunikasi di Unila bertumpu pada empat pilar.
Empat pilar tersebut mencakup perguruan tinggi sebagai penjaga moral dan wajah intelektual bangsa, komunikasi krisis sebagai upaya mewujudkan good university governance, reputasi sebagai strategi perguruan tinggi untuk memperoleh kepercayaan publik, dan komunikasi efektif terhadap respons publik dan media. “Dalam upaya mewujudkan good university governance, Unila telah menerapkan tata kelola komunikasi krisis yang terstruktur, koordinasi lintas unit yang solid dengan kejelasan kewenangan setiap divisi, konsistensi pesan dan keterbukaan informasi berbasis data,” ucap Prof. Lusmeilia.
Ia mencontohkan praktik tersebut dengan salah satu yang isu yang pernah mereka hadapi. Yakni ketika suatu akun media sosial independen tidak resmi berseliweran mengunggah berbagai hal semacam aspirasi. Menghadapinya, kata Prof. Lusmeilia, pihaknya senantiasa memantau dan mencoba memahami apa yang disampaikan akun tersebut kepada Unila, kemudian memberikan respons secara transparan.
Bangun Resiliensi Reputasi
Lebih jauh, Prof. Lusmeilia menegaskan bahwa reputasi perguruan tinggi tidak dibangun hanya ketika krisis terjadi, tetapi tumbuh dari konsistensi, tata kelola, kualitas kinerja dan integritas institusi. Karena itu, kata Prof. Lusmeilia, setiap respons yang diberikan harus mengedepankan kecepatan, akurasi, transparansi dan empati tanpa mengabaikan validitas informasi maupun etika komunikasi.
Pemaparan tersebut juga memantik pernyataan dari salah satu peserta tentang langkah aktual perguruan tinggi dalam menyikapi krisis. Menanggapi pertanyaan tersebut, Prof. Lusmeilia menjelaskan, faktor terpenting adalah kekompakan seluruh unsur di lingkungan universitas. Menurutnya, humas tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan dukungan seluruh pimpinan dan sivitas akademika untuk menjaga kepercayaan publik. “Kami terus menghadirkan informasi positif mengenai Unila secara konsisten. Bukan untuk menutupi berita negatif atau menutupi krisis, tetapi agar masyarakat juga melihat berbagai capaian, kinerja dan nilai yang dimiliki Unila secara utuh,” pungkasnya. (Evira Anyelia)
- BERITA TERKAIT
- Menengok Strategi Unila dalam Membangun “Good University Governance”
- Komunikasi Satu Pintu Jadi Cara Undip Pastikan Komunikasi Krisis Berjalan Efektif
- Menengok Perspektif Enam Perguruan Tinggi tentang Pengelolaan Komunikasi Krisis
- Menengok Formula Kemendiktisaintek Kelola Komunikasi Krisis dan Reputasi
- Gelar Bimtek, HUMAS INDONESIA Dorong Perguruan Tinggi Cakap Manajemen Krisis