RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berkolaborasi dengan Kemenag untuk memperkuat strategi komunikasi dan konsistensi identitas baru agar memperkuat persepsi, reputasi dan kepercayaan publik.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Proses rebranding bukan sekadar mengganti nama dan identitas visual, tetapi juga memastikan identitas baru tersebut dapat dikenal, dipahami, dan melekat dalam benak publik. Proses tersebut tengah dijalani Rumah Sakit (RS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berganti identitas sejak Oktober 2025. Sebelumnya, mereka dikenal sebagai Rumah Sakit Haji.
Dalam menjalani proses tersebut, RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta diketahui menggandeng Kementerian Agama (Kemenag) untuk mendapatkan masukan terkait strategi komunikasi dan rebranding. Hal itu disampaikan Wakil Direktur Keuangan dan Pemasaran RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Eka Pujiyanti.
Eka menjelaskan, salah satu tantangan dalam proses perubahan identitas tersebut adalah masih ditemukannya penggunaan nama lama dalam berbagai konteks. “Untuk itu, pentingnya kekuatan komunikasi dan campur tangan dari praktisi public relations (PR) untuk dapat mengomunikasikan perubahan ini agar masyarakat semakin mengenali identitas baru rumah sakit,” ujarnya dikutip dari laman resmi Kemenag, Rabu (12/8/2026).
Selain itu, Eka menilai, komunikasi juga perlu diarahkan untuk memperkuat posisi RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai rumah sakit pendidikan sekaligus rumah sakit layanan kesehatan. Hal ini mengingat rumah sakit tersebut memiliki sejumlah layanan keunggulan mulai dari layanan kesehatan haji dan umrah, kardiovaskular, trauma center, onkologi, neuroemergency, dan dialysis center.
Konsistensi Identitas
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama Thobib Al Asyhar menekankan, proses rebranding tidak berhenti pada pergantian nama. Menurutnya, identitas baru harus dibangun melalui strategi komunikasi yang konsisten sehingga mampu membentuk image dan persepsi yang sesuai dengan positioning yang ingin dibangun.
Alumnus Universitas Indonesia itu menyampaikan, konsistensi identitas visual juga perlu diterapkan dalam berbagai produk komunikasi. “Mulai dari video, flyer, pengumuman hingga penggunaan logo sebagai upaya membangun identitas barunya. Sehingga keseluruhan standardisasi publikasi harus terstandar,” ujarnya saat menerima audiensi jajaran RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di kantor Kementerian Agama Jakarta.
Kepada Thobib, Eka juga menyampaikan bahwa kanal digital RS ini sudah mulai menunjukkan pertumbuhan dari sisi jumlah pengikut dan engagement. Namun, jumlah jangkauan konten dan dampaknya terhadap kunjungan pasien masih harus dikejar.
Dalam konteks ini, kata Thobib, diperlukannya perubahan pendekatan komunikasi dari hanya mempublikasikan aktivitas rumah sakit menjadi penyedia informasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Ia mencontohkan pengembangan website Kemenag yang diarahkan sebagai sumber rujukan informasi bukan hanya sebagai kanal publikasi kegiatan.
Thobib pun mendorong RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk mengembangkan salah satu kanal komunikasinya yaitu website sebagai sumber rujukan informasi kesehatan bagi masyarakat. Di sana, katanya, konten dapat diperluas tidak hanya mengenai kegiatan rumah sakit, tetapi juga informasi layanan, edukasi kesehatan hasil riset, hingga testimoni pengalaman pasien. “Jadi setiap informasi yang dibagikan pendekatannya itu bukan apa yang menurut kita penting, tetapi apa yang menurut pasien atau calon pasien itu penting,” tandasnya. (Evira Anyelia)
- BERITA TERKAIT
- Perkuat “Branding” Anyar, RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gandeng Kemenag
- Kepala Humas PB IDI Sebut 4 Hal Penting Demi Perbaikan Pelayanan Kesehatan
- Guna Hadapi Krisis, Perhumas Makassar Serukan Pentingnya Kolaborasi “Pentahelix”
- ASPIKOM Jatim dan UM Dorong Peningkatan Kontribusi Ilkom di Tingkat Global
- Pakar Soroti Kasus Komunikasi Nirempati Sejumlah Dokter di Media Sosial