Sekum Perhumas Indonesia Ungkap 5 Hal yang Perlu Dibenahi dalam Praktik PR

PRINDONESIA.CO | Kamis, 20/08/2026
Sekretaris Umum (Sekum) Perhumas Indonesia Benny Siga Butar Butar dalam talkshow bertajuk Reinventing PR through Multidimensional Communication Crisis
doc/antara

Sekretaris Umum (Sekum) Perhumas Indonesia Benny Siga Butar Butar mengungkap lima kelemahan fundamental praktik public relations (PR) yang perlu dibenahi. Apa saja? Simak berikut ini!

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Beberapa waktu lalu, Persatuan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia cabang Makassar menyelenggarakan talkshow bertajuk Reinventing PR through Multidimensional Communication Crisis. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Sekretaris Umum (Sekum) Perhumas Indonesia Benny Siga Butar Butar sebagai narasumber.

Dalam kesempatan tersebut, Benny menyampaikan bahwa praktisi PR harus bertransformasi menjadi pengambil keputusan dan tidak lagi bertindak sebagai “pemadam kebakaran”, atau hanya berperan sebagai pihak yang merespons persoalan setelah terjadinya krisis. “Kini peran PR harus semakin strategis, harus lebih memahami bagaimana menciptakan understanding, penerimaan, agar pesannya diterima dan memotivasi orang untuk bertindak,” ujarnya dikutip dari Antaranews.com, Minggu (9/8/2026).

Untuk itu, kata Benny, setidaknya ada lima kelemahan fundamental yang perlu diperbaiki sehingga peran PR semakin strategis dalam perusahaan, sebagai berikut.

1. Cara Berpikir Strategis

Menurut Benny, praktisi public relations wajib memiliki kemampuan memahami sumber daya dan mampu membaca perkembangan dalam jangka panjang termasuk memproyeksikan kondisi lima hingga sepuluh tahun ke depan sehingga perencanaan strategis dapat berdampak bagi perusahaan.

2. Kampanye Strategis

Benny menilai, kampanye komunikasi tidak semestinya hanya dilakukan satu kali. Menurutnya, kampanye tersebut harus dirancang secara berkelanjutan dan memiliki dampak yang jelas dan terukur.

3. Kemampuan “Media Relations”

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Umum LKBN ANTARA itu menekankan, kemampuan praktisi PR dalam menjalin hubungan dengan media perlu ditingkatkan menjadi media strategis. “Perubahan ekosistem media, mulai dari perkembangan industri media hingga konsolidasi kepemilikan media, membuat media tidak lagi sekadar menjadi saluran penyampaian informasi,” jelasnya.

4. Penanganan Krisis Komunikasi

Menurut Benny, krisis komunikasi berbeda dengan sekadar manajemen krisis. Adapun komunikasi krisis menyangkut bagaimana pesan disampaikan kepada publik yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

5. Kemampuan Evaluasi Diri

Benny menjelaskan, keberhasilan suatu program komunikasi saat ini belum tentu relevan untuk menghadapi tantangan di masa depan sehingga praktisi PR perlu melakukan evaluasi diri secara berkala. Cara ini akan memastikan praktisi PR memiliki sebuah rumusan dan pendekatan baru dalam praktik komunikasi agar terus relevan.

Dengan demikian, kelima kelemahan di atas perlu segera dibenahi agar posisi praktisi PR tidak terperangkap sebagai “pemadam kebakaran” dan sulit ambil bagian dalam proses pengambilan keputusan strategis organisasi. (Evira Anyelia)