Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Publik Ismail Cawidu membagikan beberapa poin yang berkaitan dengan praktik kerja praktisi PR Kemenag agar terus beradaptasi dan beretika dalam menghadapi tantangan dari AI. Apa saja? Simak berikut ini.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Pesatnya kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus menghadirkan tantangan baru dalam praktik komunikasi publik. Oleh karena itu, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Publik Ismail Cawidu meminta para praktisi public relations (PR) Kemenag untuk beradaptasi, memahami etika penggunaan AI secara bijak.
Menurut Ismail, setidaknya ada beberapa poin yang perlu diterapkan para PR Kemenag dalam menghadapi serangan AI yang begitu dahsyat. “Poin yang saya ingin sampaikan ini bukan berarti tidak boleh menggunakan AI, tetapi kita tetap dapat menggunakan AI tanpa kehilangan makna sebagai seorang praktisi PR,” ujarnya dalam webinar Penguatan Tata Kelola Kehumasan yang dikutip dari laman resmi Kemenag, pada Rabu (19/8/2026).
Berikut tujuh di antara beberapa poin yang disampaikan Ismail.
1. Beretika dan Bertanggung Jawab
Di era sekarang, praktisi PR tidak bisa meminggirkan keberadaan AI sepenuhnya. Namun, kata Ismail, penggunaannya harus berpatokan kepada etika dan tanggung jawab. Selain itu, ia menegaskan bahwa dalam penggunaannya praktisi PR adalah penentu arah keputusan.
2. Perkuat Kemampuan Intuisi
Ismail menegaskan, praktisi PR harus bisa lebih cepat mendeteksi dan menangkal penyebaran informasi palsu yang merajalela di tengah kecanggihan AI sekarang. “PR dituntut lebih memperkuat imajinasi dan kemampuan untuk mengenali mana produk AI dan mana yang bukan AI,” jelasnya.
3. Jadi “Trust Center”
Menurut Ismail, dalam lanskap komunikasi hari ini, peran PR tidak hanya menjadi pusat informasi (information center), tetapi telah beralih menjadi pusat kepercayaan (trust center).
4. Berbasis Data Valid
Alumnus Universitas Negeri Jakarta itu berpesan agar praktisi PR tidak membuat berita tanpa dasar data yang valid. Ia menekankan bahwa data yang valid merupakan kunci dalam membangun kepercayaan publik.
5. Orkestrator Narasi
Di era AI seperti sekarang, kata Ismail, praktisi PR dituntut mampu membangun narasi bukan hanya membuat konten. “Seribu konten bisa dibuat dengan AI, tapi narasi yang otentik, relevan dan memiliki nilai kemanusiaan adalah milik manusia,” ungkapnya.
6. Junjung Sisi Humanisme dan Kearifan Lokal
Pendekatan sisi kemanusiaan dan kearifan lokal juga menjadi bagian penting dalam strategi komunikasi. “Kita memiliki budaya lokal masing-masing yang harus dihormati dan menjadi bagian dari pelaksanaan tugas kehumasan,” ujar Ismail.
7. “AI Literate”
Dalam konteks penggunaan AI, kata Ismail praktisi PR harus AI literate alias punya kemampuan analisis yang lebih kuat daripada AI itu sendiri. “AI bisa mengalami halusinasi data (hallucination) yang dapat mendominasi penggunanya,” ujarnya menggarisbawahi pentingnya kemampuan tersebut.
Dengan poin-poin di atas, praktisi PR diharapkan dapat menghadapi tantangan yang dihadirkan oleh AI, tanpa merasa harus mengalahkan AI itu sendiri. (Evira Anyelia)
- BERITA TERKAIT
- Tim PR Kemenag Dibekali 7 Pedoman dalam Menghadapi Tantangan AI
- KONI Makassar Gelar “Workshop” PR, Perkuat Komunikasi dan Publikasi Olahraga
- John Daniel Rembeth Berpulang, Begini Kariernya di Dunia Komunikasi Tanah Air
- Tentang Tantangan Komunikasi Kiwari dan Urgensi Komunikasi yang Bernilai
- Sekum Perhumas Indonesia Ungkap 5 Hal yang Perlu Dibenahi dalam Praktik PR