Founder dan CEO HUMAS INDONESIA Asmono Wikan memberikan catatan agar komunikasi mengenai hasil riset dapat dibuat semakin kuat dan berdampak. Menurutnya, setiap riset yang dikomunikasikan perlu memperjelas sosok atau tim di balik penelitian tersebut sehingga publik tidak hanya mengetahui hasilnya, tetapi juga mengetahui siapa yang menghasilkan inovasi tersebut.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Peserta penjurian Anugerah HUMAS INDONESIA (AHI) 2026 hari kedua, Rabu (2/9/2026) menunjukkan keberagam dengan hadirnya perguruan tinggi di antara peserta dari sektor lembaga, kementerian, korporasi. Mengangkat isu ketahanan pangan, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan IPB University menunjukkan komunikasi dapat berperan penting dalam membawa hasil riset keluar dari ruang akademik dan hadir di tengah masyarakat.
Di hadapan dewan juri, UGM hadir memaparkan program komunikasi bertajuk “Sains Berdampak: Membumikan Riset Pangan UGM untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Ketua Tim Kerja Hubungan Masyarakat UGM Hestining Kurniastuti menyampaikan, program besutan almamaternya itu dirancang untuk mengedukasi masyarakat mengenai hasil riset pangan UGM agar dapat dipahami sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas.
Menurutnya, riset hebat yang dihasilkan perguruan tinggi tidak cukup berhenti di ruang akademik. Hasil penelitian perlu diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami, relevan dan dekat dengan kehidupan masyarakat. “Dalam strategi komunikasinya, kami mengoptimalkan seluruh kanal owned media untuk membumikan riset pangan, mengirimkan rilis berita kepada media terkait pemberitaan riset pangan di UGM,” ujarnya.
Strategi tersebut, lanjut Hesti, diperkuat melalui penerapan model PESO yang mengintegrasikan paid, earned, shared, dan owned media. Lewat pendekatan ini, katanya, UGM berupaya memperluas diseminasi hasil riset agrokompleks, sains dan sosiohumaniora sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap ketahanan pangan Indonesia. “Terdapat beberapa pencapaian di antaranya 16 kali berita yang disebarkan dan dibaca oleh 1025 orang, 1000 views pada konten podcast, dan antusiasme kehadiran 238 peserta diskusi dan talkshow, hingga konten UGM Researcher menyumbang 20% dari total jumlah pengikut,” papar Hesti mengenai hasil dari komunikasi program tersebut.
Menjawab Kebutuhan Nasional
Semangat serupa juga ditunjukkan oleh IPB University melalui program bertajuk “Benih Padi IPB 9 Garuda (9G) senilai Rp 250 Miliar untuk Ketahanan Pangan”. Program ini menempatkan kerja sama sebagai bagian dari strategi untuk menghubungkan kapasitas akademik dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Disampaikan oleh Kabag Humas Biro Komunikasi IPB University Siti Nuryati, pengelolaan kerja sama di IPB bukan sekadar aktivitas membangun jejaring, tetapi sebagai instrumen strategis untuk mengakselerasi transformasi institusi. “Setiap kerja sama dirancang sebagai mekanisme penciptaan nilai (value creation) yang menghubungkan kapasitas akademik, riset, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat dengan kebutuhan nyata pembangunan nasional maupun tantangan global,” jelasnya.
Untuk memastikan tujuan tersebut terukur, Nuryati menjelaskan, IPB University menetapkan SMART Objective, yaitu meningkatkan tonase pengadaan benih padi IPB 9G melalui kerja sama antara IPB University dengan Kementerian Pertanian pada tahun 2026 sebanyak 100 persen untuk menjamin peningkatan produktivitas padi nasional.
Dalam menggaungkan pesan tersebut, sama halnya dengan UGM, IPB University turut memanfaatkan kanal owned media dan penyebaran rilis berita kepada media nasional. Strategi tersebut menghasilkan 25 pemberitaan di media massa. Selain itu. sebanyak 30% warga IPB University dan mitra turut membagikan siaran pers dari IPB Today, dan dari sisi persepsi keseluruhan siaran pers yang dipublikasikan mencatat sentimen positif secara keseluruhan.
Menanggapi kedua program tersebut, founder dan CEO HUMAS INDONESIA Asmono Wikan memberikan catatan agar komunikasi mengenai hasil riset dapat dibuat semakin kuat dan berdampak. Menurutnya, setiap riset yang dikomunikasikan perlu memperjelas sosok atau tim di balik penelitian tersebut sehingga publik tidak hanya mengetahui hasilnya, tetapi juga mengetahui siapa yang menghasilkan inovasi tersebut. “Selain itu, setiap program komunikasi hasil riset tidak perlu berhenti pada publikasi, harus digempur dengan beragam narasi yang tidak hanya meningkatkan visibilitas akademik tetapi juga membuka peluang untuk menghadirkan nilai ekonomi dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (Evira Anyelia)
- BERITA TERKAIT
- Penjurian AHI 2026: Membumikan Riset Pangan dengan Kekuatan Komunikasi
- Penjurian AHI 2026: Inovasi yang Memperkuat Keterbukaan Informasi Publik
- Penjurian AHI 2026: Kreativitas Demi Komunikasi Berdampak
- Penjurian AHI 2026: Merangkul Publik Lewat Program Komunikasi
- Penjurian AHI 2026 Dimulai, Peserta Saling Unjuk Program dan Stratkom Terbaik