Vinka meyakini bahwa komunikasi bukan sekadar menyebarkan informasi, tapi membangun hubungan yang autentik.
SURABAYA, PRINDONESIA.CO— Praktisi komunikasi Generasi Z dituntut mengutamakan kejujuran dalam menyampaikan pesan, ketimbang sekadar memoles citra perusahaan. Hal itu tergambar dalam diri Vinka Dorothy Purba. Media Relations Officer PT TASPEN (Persero) itu membuktikan bahwa penyampaian informasi apa adanya dapat membangun kepercayaan publik.
Kepada HUMAS INDONESIA, Kamis (21/8/2025), lulusan Diploma Komunikasi IPB University itu mengatakan, sebagai Gen Z dan perempuan yang bekerja di bidang komunikasi, fokus utamanya adalah membuat komunikasi perusahaan lebih relevan, kreatif, dan dekat dengan publik. “Saya percaya komunikasi bukan sekadar menyebarkan informasi, tapi membangun hubungan yang autentik,” ucapnya mantap.
Kreativitas Vinka dalam komunikasi itu diuji betul ketika pimpinan menugasinya merintis akun TikTok TASPEN dari nol. Pendekatan konten yang dibuatnya berhasil menjaring ratusan ribu pengikut hingga meraih lencana verifikasi resmi. “Tantangan terbesar justru muncul di awal saat konten yang kami buat belum banyak ditonton, performa video naik-turun, bahkan kadang membuat saya overthinking,” ceritanya mengenang fase tersebut.
Namun, kenang Vinka, ia kemudian merumuskan formula konten interaktif untuk memancing reaksi penonton. Ia meyakini bahwa kunci komunikasi efektif di era digital adalah ketekunan, keberanian untuk terus mencoba, serta kemampuan beradaptasi.
Keberanian Berekspresi
Pengalaman mengelola media sosial korporasi dan mengikuti program Talent Secondment Kementerian BUMN turut membentuk cara pandang Vinka. Sebagai seorang profesional, ia mengamini bahwa institusi tempatnya mengabdi tidak akan luput dari kritik publik. Namun, ia menggarisbawahi bahwa di sana tugas penting humas, yakni menyajikan fakta riil demi menjaga muruah lembaga. “Peran humas adalah menghadirkan realitas tanpa menurunkan standar, demi menjaga kepercayaan publik,” tegasnya.
Perempuan yang gemar bermain alat musik ini menilai, praktisi humas di era digital perlu mengedepankan empati saat mengolah data statistik. “Seorang PR tetaplah manusia biasa yang tidak sempurna. Nilai lebihnya justru ada pada empati dan kejujuran, empati untuk benar-benar memahami audiens, dan kejujuran untuk berani menyampaikan fakta meskipun terkadang pahit,” kata penikmat musik jazz itu.
Kepada perempuan calon praktisi humas di masa depan, Vinka mengajak untuk berani mengambil risiko dalam merintis karier. Ia mengimbau untuk tidak ragu dalam memulai sesuatu, karena sering kali yang terasa berat hanya sebatas beban pikiran di awal. “Selebihnya, kalau kita sungguh-sungguh, jalan akan terbuka dan semesta ikut membantu,” tutupnya. (Arfrian R.)
- BERITA TERKAIT
- Vinka Dorothy Purba, Media Relations PT Taspen (Persero): Bangun Hubungan Autentik
- Retno Wulandari, AM Keamanan dan Humas PLN Indonesia Power UBP Semarang: Kepercayaan Adalah Aset
- Fiona Sari Utami, Senior Manager CorSec PT Pelabuhan Tanjung Priok: Merangkai Cerita yang Berdampak
- Merlin Pursari, PR Officer PT Pertamina EP Limau Field: Komunikasi Yang Inklusif
- Hestining Kurniastuti, Ketua Tim Kerja Humas UGM: Menjembatani Kepercayaan