Selain Meraih Liputan Media, PR Juga Harus Mendapatkan Sitasi dari AI

PRINDONESIA.CO | Selasa, 06/10/2026
Ilustrasi AI.
Photo by Syirwan Ainu via Pexels

Tim komunikasi perlu beralih dari sekadar mengelola kampanye jangka pendek menjadi menjaga rekam jejak publik organisasi agar tetap relevan dan akurat.

Oleh: Ross Gan, Presiden Institute of Public Relations of Singapore

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Ketika Anda menanyakan sesuatu tentang organisasi Anda kepada sistem generative AI, dalam hitungan detik sistem tersebut dapat merangkum jajaran pimpinan, membandingkan produk, dan menilai reputasi organisasi Anda. Jawabannya tidak hanya bersumber dari materi yang Anda publikasikan, tetapi juga dari rekam jejak informasi publik yang lebih luas, termasuk sumber-sumber pihak ketiga.

Jawaban tersebut dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk mencari tahu lebih jauh, calon pelanggan untuk menghubungi perusahaan, atau calon karyawan untuk melamar pekerjaan. Di tengah itu, reaksi spontan para pemimpin perusahaan mungkin berupa pertanyaan: bagaimana kita mengendalikan apa yang dikatakan AI tentang organisasi kita? Namun, pertanyaan itu pada dasarnya keliru.

Public relations (PR) tidak dapat “mengelola” pemahaman algoritma dengan cara yang sama seperti mengelola situs web perusahaan atau paid campaign. Large language models memanfaatkan ekosistem informasi yang sangat luas, mulai dari pemberitaan media, laporan analis, dokumen regulator, penelitian akademis, hingga konten perusahaan. Rekam jejak informasi seperti ini tidak bisa begitu saja muncul hanya karena kita menginginkannya. Kredibilitasnya harus dibangun dan diperoleh.

Pendekatan teknis untuk meningkatkan AI visibility, termasuk Generative Engine Optimisation, dapat membantu mesin menemukan dan memahami informasi yang terstruktur. Namun, solusi teknis yang hanya mengatasi gejala bisa cepat kehilangan efektivitas seiring perkembangan perangkat AI. Solusi semacam itu juga tidak dapat menggantikan kredibilitas yang diperoleh melalui pengakuan independen.

Analisis Muck Rack pada Mei 2026 terhadap lebih dari 25 juta tautan yang dikutip oleh sistem AI menemukan bahwa earned media menyumbang 84 persen sitasi. Sementara itu, paid content dan advertorial hanya mencakup 0,3 persen.

Pelajaran strategisnya jelas: sistem AI tidak hanya mengandalkan klaim promosi yang dibuat organisasi tentang dirinya sendiri. Sistem tersebut juga mencari tanda-tanda otoritas yang datang dari sumber independen.

Ini bukan berarti jurnalis, analis, atau kreator harus diperlakukan sebagai alat untuk memengaruhi algoritma. Justru independensi merekalah yang membuat karya mereka kredibel. Ini juga bukan soal mengejar liputan sebanyak mungkin. Pengulangan dapat membuat suatu klaim semakin tersebar, tetapi tidak serta-merta membuat klaim itu benar.

Tanggung Jawab Kita Adalah Menjadikan Organisasi Layak untuk Dikutip.

Di Asia, tantangan ini jauh lebih kompleks. Organisasi beroperasi di berbagai sistem regulasi, bahasa, dan konteks budaya. AI dapat merangkum potongan-potongan informasi lokal tersebut menjadi satu jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi menghilangkan nuansa penting. Narasi perusahaan yang disusun di kantor pusat, misalnya, bisa bertentangan dengan pemberitaan lama atau pengalaman pemangku kepentingan di pasar lain.

Karena itu, tim komunikasi perlu beralih dari sekadar mengelola kampanye jangka pendek menjadi menjaga rekam jejak publik organisasi agar tetap relevan dan akurat. Untuk melakukannya, ada tiga hal yang perlu diubah.

1. Terlibat sejak awal dalam proses tata kelola

Pemimpin komunikasi perlu memberi masukan kepada manajemen sebelum keputusan diumumkan kepada publik. Dengan begitu, mereka dapat mengidentifikasi kesenjangan antara tindakan organisasi dan narasi yang berkembang tentang organisasi tersebut.

2. Bangun otoritas yang dapat diverifikasi

Organisasi perlu menerbitkan konten yang beragam dari subject-matter experts yang benar-benar memahami bidangnya, memastikan setiap klaim didukung bukti, serta terus menjalin hubungan dengan media spesialis dan komunitas yang relevan. Upaya ini tidak cukup jika hanya mengandalkan distribusi siaran pers dalam jumlah besar.

3. Audit visibilitas

Tim komunikasi perlu melihat lebih jauh daripada sekadar impressions dan share of voice. Mereka perlu menelusuri pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang berkepentingan dengan bisnis, memeriksa jawaban dari berbagai sistem AI, mengevaluasi sumber yang dikutip AI, serta memperbaiki ketidakakuratan atau kekosongan informasi yang terus berulang.

Jawaban AI yang positif bukanlah aset yang sepenuhnya dimiliki organisasi. Jawaban itu hanyalah interpretasi sementara atas bukti yang tersedia, dan hasilnya dapat berubah tergantung pada platform, prompt, bahasa, maupun waktu. Karena itu, reputasi bukan lagi sekadar hasil dari aktivitas public relations. Reputasi kini menjadi bagian aktif dari tata kelola perusahaan, posisi kompetitif, dan manajemen risiko.

Gagasan ini sejalan dengan mandat lebih luas yang menjadi inti Media OutReach Newswire PRISM Summit 2026, yang diselenggarakan oleh Institute of Public Relations of Singapore pada 12 November 2026 di METT Singapore. Mengusung tema “From Message to Mandate”, IPRS mengundang para pemimpin dari seluruh kawasan untuk hadir. Para profesional di bidang komunikasi, bisnis, jurnalistik, dan public affairs dapat belajar dari para pembicara tentang bagaimana kepercayaan, pengawasan independen, dan sitasi AI membentuk ulang kepemimpinan komunikasi di kawasan ini.

AI tidak menghilangkan unsur manusia dalam PR. Sebaliknya, AI semakin menegaskan betapa berharganya kepercayaan antarmanusia dan betapa lama dampaknya bertahan. Kita memang tidak bisa menentukan apa yang dikatakan AI tentang organisasi kita. Namun, kita bisa memastikan bahwa tindakan kita siap menghadapi pemeriksaan kritis, klaim kita didukung bukti, dan hubungan yang kita bangun memang layak dipercaya. Seperti halnya liputan media yang kredibel, sitasi AI tidak bisa sekadar dikendalikan. Sitasi tersebut harus diperoleh.