Konten Favorit Netizen

PRINDONESIA.CO | Jumat, 10/09/2021
Berbagai kecenderungan warganet dalam mengakses media sosial dan mengonsumsi konten digital penting untuk terus diteliti dan dikaji oleh humas pemerintah.
Dok.Istimewa

Media sosial sebagai kanal komunikasi publik semakin strategis seiring perluasan akses masyarakat terhadap internet. Berdasarkan data Statista.com, pengguna internet Indonesia pada tahun 2020 mencapai 196,7 juta. Meningkat lebih dari 400 persen dibanding tahun 2010. Secara simultan, pengguna media sosial Indonesia juga terus meningkat, seperti pengguna Facebook yang pada tahun 2020 mencapai 140 juta.

Oleh: Dimas Aditya Nugraha, Koordinator Media Sosial & Pranata Humas Ahli Madya Kementerian Kominfo RI

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Seiring peran strategis media sosial sebagai kanal komunikasi publik, pemahaman tentang kecenderungan warganet sebagai pengguna media sosial dalam mengakses informasi dinilai semakin penting. Sebagai contoh, pemahaman tentang kapan warganet biasa mengakses internet. Pemahaman tersebut penting untuk merumuskan waktu yang tepat dalam menyebarkan informasi publik melalui media sosial.

Dengan kesadaran pentingnya pemahaman mengenai perilaku warganet dalam membuat konten-konten yang relevan, Indonesiabaik.id yang merupakan salah satu kanal komunikasi publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di media sosial, pada tahun 2020 melakukan studi terkait format dan ragam konten digital. Studi tersebut melibatkan 1003 responden yang merupakan follower media sosial Indonesiabaik.id di berbagai platform, baik Instagram, Facebook, maupun Twitter.

Penelitian tersebut menemukan bahwa mayoritas responden sangat menyukai konten berbasis visual. Grafik bergerak atau motion graphics dan video pendek, merupakan format konten yang sangat disukai responden (56%). Informasi berbasis visual lainnya yang sangat disukai warganet adalah infografis (54%). Selanjutnya informasi yang disajikan dalam bentuk komik yang sangat disukai oleh 40 persen responden. Sementara itu, responden yang menyatakan sangat menyukai konten berbasis teks (artikel) hanya 35 persen, disusul konten audio sebesar 28 persen.