Anita Bernardus, APRIL Group: Relevan adalah Kunci

PRINDONESIA.CO | Kamis, 07/10/2021
Meski tren PR banyak dibentuk oleh teknologi, namun fundamental seorang PR adalah tetap soal human to human. PR tetap harus memiliki dan memelihara strategic relationship.
Dok. PR INDONESIA/Ronny

Rasanya menyenangkan dapat mengenal lebih dalam sosok Anita Bernardus, Deputy Director Corporate Communications APRIL Group, Jumat (16/7/2021). Meskipun hingga saat ini kami belum berkesempatan untuk menemuinya secara langsung karena terkendala pandemi.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Dari hasil obrolan itu, kami mengetahui Anita seperti juga praktisi PR pada umumnya, bukan berlatar belakang pendidikan PR atau komunikasi. Perempuan berdarah Ambon dan Semarang ini adalah lulusan S1 Jurusan International Business Berkeley College dan S2 IPMI International Business School.

Menariknya, ia sudah berkecimpung di dunia komunikasi sejak memulai karier profesionalnya. Beruntung, Anita memulainya dari perusahaan migas multinasional yang umumnya dikenal memiliki SOP jelas dan sistem yang kuat, termasuk panduan ketika berhadapan dengan krisis. Dari sana kariernya menanjak dan kian bewarna.

Hingga tahun 2019, ia berlabuh di APRIL Group. Menurutnya, saat ini profesi PR sudah jauh lebih menantang. PR harus memastikan setiap komunikasi tertarget dan personal. Meski begitu, ia menikmati semua proses evolusi ini. Kepada Ratna Kartika dan Aisyah Salsabila dari PR INDONESIA, ia berkisah.

Apa kabarnya?

Kabar baik.

Pandemi sudah memasuki tahun kedua, apakah kondisi ini turut memengaruhi aktivitas dan target bisnis APRIL Group?

Kami beruntung, sebab sejauh ini industri kami tidak termasuk salah satu sektor yang cukup terdampak akibat pandemi. Kegiatan operasional masih tetap berjalan, khususnya di pabrik, dengan mengedepankan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Sementara kami yang di Jakarta, bekerja dari rumah.

Adapun hal yang paling dirasakan berbeda selain mengedepankan prokes adalah kebiasaan atau cara kami bekerja yang berubah. Di masa ini, kami dituntut cepat beradaptasi dan menjadi lebih kreatif. Contoh, aktivitas Corporate Communications selama sebelum pandemi biasanya lebih banyak dilakukan secara off-line. Sekarang, semua kegiatan harus diubah menjadi on-line. Bahkan, tahun lalu sebelum PPKM Darurat, kami melakukan penyesuaian dengan mengadakan event secara hibrida.