“Quo Vadis” PR dan Manajemen Komunikasi

PRINDONESIA.CO | Selasa, 07/12/2021
Keterkaitan PR dan manajemen komunikasi dapat dievaluasi pada empat tingkat atau “model empat-kali-empat”, yakni tingkat program, fungsional, organisasi, dan masyarakat.
Dok.Istimewa

Fungsi public relations (PR) dan manajemen komunikasi berkembang dinamis sejak awal kemunculan. Keduanya bahkan memicu dualisme yang berkembang dalam bidang keilmuan maupun dunia kerja. Masing-masing kubu memiliki argumentasi atas posisi strategis yang dimiliki. Alih-alih mencari perbedaan atau siapa yang paling unggul, tulisan ini mencoba untuk melakukan pembacaan keduanya sejak awal hingga praktiknya saat ini.

Oleh: Amin Shabana, Founder On-Point Communication dan Anggota Dewan Pengurus LSP Mankom.  

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Harlow (1976) menjadi salah satu ilmuan pertama yang melakukan kajian atas 472 definisi PR. Menurutnya, kesimpulan semua definisi tersebut adalah interaksi antara organisasi dengan pemangku kepentingan. Deskripsi ini secara luas menunjukkan tanggung-jawab yang dimiliki dalam membina hubungan tersebut melalui praktik pengelolaan pemangku kepentingan, manajemen reputasi, manajemen krisis, public affairs, hubungan karyawan, memberikan nasihat kepada manajemen serta manajemen komunikasi.

Grunig dan Hunt menjadi ilmuan pertama yang menjelaskan bagaimana PR sejak awal melakukan praktik “manajemen komunikasi antara organisasi dengan publiknya" (1984:6). Bagaimana PR dan Manajemen Komunikasi saling berkelindan dapat dibaca secara utuh dalam buku Excellence in Public Relations and Communication Management (Grunig, 1992) dan Excellent Organizations and Effective Organizations: A Study of Communication Management in Three Countries (Grunig, L., Grunig J., & Dozier, 2002), serta The Future of Excellence in Public Relations and Communication Management (Toth, 2007).

 

Bangunan Relasi Keduanya

Namun demikian, hubungan keduanya juga tidak luput dari kelompok yang melakukan kritik terhadap paradigma manajemen komunikasi fungsionalis dari PR ini. Beberapa kelompok tersebut berasal dari kelompok retoris (Heath, 2009), dialogis (Taylor & Kent, 2014), dan sosiokultural (Edwards & Hodges, 2011).