Tiga Kemampuan Global yang Wajib Dimiliki Praktisi PR

PRINDONESIA.CO | Sabtu, 21/05/2022
Kerangka kemampuan global ini juga menjadi acuan PR dalam mengukur kekuatan tim. Disamping, untuk pengembangan karier jangka panjang.
Dok.Istimewa

Ada tiga kemampuan penting yang mesti dimiliki praktisi public relations (PR) jika ingin mengepakkan kariernya di kancah internasional. Apa itu?

 

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Dalam pandangan Anne Gregory, guru besar komunikasi korporat di Universitas Huddersfield, London, United Kingdom (UK), ketiga kemampuan yang dimaksud meliputi komunikasi, organisasi, dan profesionalisme. Ia menyampaikan hal tersebut saat webinar acara inaugurasi sebagai Adjunct Professor di LSPR Communication and Business Institute, Selasa (8/3/2022).

Lebih lanjut, Anne menyebutkan, guna memenuhi kemampuan berkomunikasi, PR harus mumpuni dalam empat hal. Pertama, menyelaraskan strategi komunikasi dengan tujuan dan nilai organisasi. Kedua, mengidentifikasi dan mengatasi masalah komunikasi secara proaktif. Ketiga, melakukan penelitian formatif dan evaluatif untuk mendukung strategi dan taktik komunikasi. Keempat, berkomunikasi secara efektif di berbagai platform dan teknologi.

Sementara kemampuan organisasi meliputi memfasilitasi hubungan dan membangun kepercayaan dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal. Selain itu, kemampuan membangun dan meningkatkan reputasi organisasi. “Dalam berorganisasi, PR juga harus memiliki kecerdasan kontekstual,” kata peraih Atlas Award dari The Public Relations Society of America ini.

Berikutnya adalah kemampuan profesionalme. Kemampuan ini terdiri dari empat hal. Antara lain, kemampuan dalam memberikan nasihat yang berharga dan menjadi penasihat tepercaya, memimpin, dan bekerja dalam kerangka kerja etis atas nama organisasi yang sejalan dengan harapan profesional dan masyarakat. Terakhir, kemampuan mengembangkan diri dan orang lain.

 

Menjadi Acuan

Menurut perempuan yang telah mempublikasikan lebih dari 100 bab buku dan artikel jurnal itu, kerangka kemampuan global ini juga menjadi acuan PR. Salah satunya, untuk mengukur kekuatan tim. Disamping, tentu saja, untuk pengembangan karier jangka panjang.

Menurut Anne, meski ada perbedaan budaya, geografis, dan tingkat kedewasaan, kerangka kemampuan global ini tetap bisa menjadi titik acuan kemampuan yang harus dimiliki PR. “Tentu, disesuaikan dengan konteks negara masing-masing,” ujarnya.

Di Indonesia, penelitian serupa mengenai kerangka kemampuan global praktisi PR telah dilakukan oleh Head of Research Centre & Staff Lecturer LSPR Communication and Business Institute Rendro Dhani. Dari hasil penelitiannya, diketahui kemampuan PR yang menduduki peringkat tiga besar di antaranya, pertama, kemampuan membangun kredibilitas dan kepercayaan organisasi/pribadi. Kedua, kemampuan mengelola masalah, manajemen krisis, dan komunikasi. Ketiga, memahami dan mampu bekerja dalam kerangka kerja etis. Sudahkah pembaca memiliki kemampuan-kemampuan tersebut? (rvh)