5 Strategi Membuat Konten Berbasis “Data-Driven”, Apa Saja?  

PRINDONESIA.CO | Minggu, 13/11/2022
Andrew Prasatya, Head of Content Marketing RevoU, membagikan rahasianya membuat konten berbasis data-driven kepada para peserta workshop JAMPIRO #8 di Surabaya, Rabu (9/11/2022).
Dok. PR INDONESIA

Belum banyak perusahaan yang menggunakan pendekatan data-driven content. Padahal konten berbasis data-driven itu dapat membuat brand awareness bertahan untuk jangka waktu yang lama. Apalagi jika upaya tersebut dilakukan secara konsisten.  

SURABAYA, PRINDONESIA.CO Konten yang bersifat data-driven belakangan ini menjadi produk media yang paling laku di masyarakat. Pendekatan serupa sebenarnya bisa dilakukan oleh para praktisi public relations (PR). Andrew Prasatya, Head of Content Marketing RevoU, membagikan rahasianya kepada para peserta workshop kelas Digital PR bertema “Unboxing Digital Public Relations” di acara Jambore PR INDONESIA (JAMPIRO) #8, Surabaya, Rabu (9/11/2022).

Menurut Andrew, data-data yang terkandung di dalam data-driven content bisa bertahan dalam jangka waktu cukup panjang. Lantas, bagaimanakah cara membuat konten yang bersifat data-driven? Pria lulusan Universitas Bakrie tersebut merangkumnya ke dalam lima strategi. Berikut uraiannya. 

1.    Kenali brand Anda.
Praktisi PR harus mengenal brand mereka agar mampu menemukan kata-kata kunci yang relevan di sekitarnya. Dengan demikian, mereka dapat dengan mudah menemukan topik konten yang sesuai dengan brand. Tanpa langkah ini, konten yang dibuat cenderung berputar di sekitar perusahaan maupun brand yang bersangkutan, bukan pada topik lain. ”Bukan berarti selama ini salah. Tapi, untuk mendapatkan publikasi organik dari media, bukan suatu hal yang menarik,” katanya.

2.    Cari tahu tren yang sedang hangat /ramai dibicarakan orang-orang.
Untuk mengetahui tren yang sedang berlangsung, PR dapat berselancar di Google Trends. Khususnya, untuk mengetahui topik pencarian menarik yang bisa disegmentasi secara regional. Selain itu, PR juga dapat memanfaatkan Hashtag24 yang menampilkan dinamika trending topic di media sosial, Twitter. Di samping itu, Google News untuk mengetahui artikel berita yang banyak ditulis.

3.    Temukan, kumpulkan, dan proses semua sumber data.
Data terbagi ke dalam tiga kategori. Terdiri dari internal, eksternal (firsthand), dan secondhand. Data-data internal biasanya bersumber dari Google Analytics, sales number, database internal, dan performance data. Sedangkan firsthand atau eksternal data, contohnya adalah survei yang dilakukan oleh in-house atau pihak ketiga.

Andrew mengatakan, umumnya data yang tidak diketahui banyak orang adalah data yang bersifat secondhand. Google Trends, situs resmi, dan situs agregator merupakan contoh data secondhand. Namun, beberapa situs lain, seperti platform streaming (Spotify, YouTube), bisa menunjukkan data secondhand yang bisa dimanfaatkan. Antara lain, terkait jumlah produk media yang dikonsumsi, dari mana mereka berasal, dan lain sebagainya.

Data tersebut kemudian digabungkan menjadi satu. Selanjutnya, kata Andrew, setidaknya PR membutuhkan pengetahuan dasar program seperti Microsoft Excel untuk bisa memproses data tersebut. Penggabungan data yang dilakukan dengan menggunakan software akan memudahkan PR dalam menemukan pola (pattern) saat sedang mencari informasi yang menarik.  

4.    Olah data agar mudah dipahami secara visual.
Data lebih mudah dipahami masyarakat apabila dikemas ke dalam bentuk infografis. Pembuat konten bisa menampilkannya dalam bentuk visual yang statis maupun interaktif.

Menurut Andrew, dalam mengemas infografis sebaiknya direncanakan dengan matang dan tidak sembarangan. Ia, misalnya, masih menemukan infografis yang di dalamnya mengandung hingga sepuluh informasi. Ia menyarankan agar PR sebaiknya fokus pada satu pesan utama apabila informasi yang disampaikan terlalu banyak.

5.    Cari tahu kunci penting dari hasil temuan data.
Setelah data infografis selesai, pertanyaan selanjutnya adalah menentukan cerita menarik yang akan diangkat. Jika pengolah data bisa menemukan temuan kunci dalam suatu data, kunci tersebut dapat dikembangkan menjadi cerita yang bisa diangkat oleh media. Hal ini bisa dikaitkan dengan prinsip news values. 

Jadi, sudahkah Anda siap mengemas konten yang bersifat data-driven? (fer)