.jpeg&w=750)
Sebagai praktisi humas, Intan Agisti Nila Sari punya komitmen untuk memberikan dampak positif bagi organisasi dan masyarakat luas, tanpa melupakan kehidupan pribadi dan keluarganya.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Menjaga keseimbangan waktu profesional dan personal bukan hal yang mudah. Terlebih dalam tiap relasi hubungan, perlu daya untuk menciptakan momen bermakna. Namun, justru upaya untuk bisa seimbang itu yang menjadi bara semangat Intan Agisti Nila Sari, dalam melakoni perannya sebagai Direktur Komunikasi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta sekaligus ibu bagi dua orang anaknya.
Kepada HUMAS INDONESIA, Kamis (6/2/2025), Intan menjelaskan, kesibukan yang kini harus dilalui sebagai praktisi humas telah ia pahami dari lama. Sebab, terangnya, sejak menempuh studi S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dirinya meyakini bahwa dunia komunikasi adalah tempatnya kelak mengabdi. “Saya belajar bagaimana komunikasi efektif dapat menjadi alat utama menciptakan dampak jangka panjang yang positif. Dari situ ketertarikan saya mengakar,” ujarnya.
Setelah sempat menjajal peran sebagai Communication and Awareness Officer WWF Indonesia, Media Facilitator UNESCO, hingga Task Force Corporate Secretary Angkasa Pura I sebelum pada Desember 2023 lalu dipercaya untuk jabatan yang sekarang, perempuan kelahiran Yogyakarta itu dengan tegas menyebut lakonnya di kehumasan bukan sekadar karier, melainkan bagian dari komitmen pribadi untuk terus berdaya dan berkontribusi dalam menciptakan dampak positif.
Dalam tanggung jawabnya yang sekarang, penyuka fotografi itu mengaku kerap dihadapkan dengan tantangan. Terlebih, fokus utamanya kini adalah menegaskan posisi UNU Yogyakarta sebagai Becoming the Leading Professional-Hub and Future Oriented University. Namun, pengalaman kala bertugas sebagai Task Force Corporate Secretary Angkasa Pura I saat pandemi COVID-19 membuatnya bisa menyiasati segala persoalan. “Pengalaman tersebut kembali mengingatkan saya bahwa bagi seorang praktisi humas, keterampilan komunikasi yang efektif, koordinasi yang cepat, dan kemampuan membangun sinergi dengan berbagai pihak adalah kunci mengelola krisis serta menjaga kepercayaan publik,” tegasnya.
Berdaya Tanpa Mengesampingkan Keluarga
Kembali kepada paragraf pembuka, tetap profesional dalam bekerja tanpa melupakan keluarga masih menjadi hal yang terus diusahakan anak kedua dari tiga bersaudara ini. Terlebih, di luar rutinitas sebagai praktisi humas, Intan kini tengah menempuh studi Magister Ilmu Komunikasi di UGM. Sementara di rumah, ada suami dan anak yang juga membutuhkan kehadirannya. “Saya memiliki dua orang anak. Sulung kelas 2 SD, dan yang bungsu masih direct breastfeeding," paparnya.
Alih-alih memandang kebutuhan akan waktu untuk bekerja dan keluarga sebagai tantangan yang harus disiasati, perempuan yang menjadikan aktivitas mendengar musik sebagai momen memvalidasi perasaan ini memilih untuk menjalaninya dengan hati senang. “Karena hal tersebut merupakan jalan yang saya pilih dengan penuh kesadaran,” ucapnya.
Oleh karena itu, ketika ditanya soal sosok yang menginspirasi hidupnya, Intan pun dengan lantang menjawab para ibu rumah tangga yang memiliki kesabaran dan ketangguhan luar biasa, serta perempuan pekerja di luar sana yang berdaya tanpa mengesampingkan keluarga. Mereka, kata Intan, memberikan motivasi untuk terus bergerak dan menebar manfaat.
Motivasi itu pula yang kemudian mengantarnya ke jenjang studi S2, demi bisa berkontribusi lebih bagi bangsa. “Saya bermimpi untuk dapat berkontribusi lebih bagi Indonesia, salah satunya dengan bergabung di tim komunikasi pemerintah,” tutupnya. (ARF)
- BERITA TERKAIT
- Kartika Octaviana, VP Corporate Communication PT Amman Mineral Internasional Tbk
- Madania Fariha Shifa, Best Presenter PRIA 2025: Bukan “People Pleaser”
- Ahmad Fauzi, Corporate Communication PT Pupuk Kujang: Ilmu Kehidupan
- Milla Suciyani, Senior Manager Communication and Stakeholder Relations PT Kilang Pertamina Internasional (KPI): “Do the Best”
- M. Andra Arivianto, Corporate Communications Spv PT Mandiri Tunas Finance: Berani Ambil Risiko