Setiap organisasi perlu menerapkan teori komunikasi korporat untuk mendorong visi dan misi perusahaan. Lantas, apa saja teori itu? Simak berikut ini!
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Komunikasi dalam sebuah korporasi memegang peranan penting. Salah satunya untuk memastikan hubungan yang baik antara organisasi dengan pemangku kepentingan. Tanpa komunikasi yang strategis, kesalahpahaman mudah terjadi dan reputasi pun menjadi taruhannya.
Dalam konteks ini, mengutip buku Komunikasi Korporat (2025) karya Syubhan Akib dkk., terdapat sekurangnya empat pendekatan teoritis yang bisa dijadikan pedoman para prkatisi komunikasi korporat. Apa saja?
1. Teori “Stakeholder”
Diperkenalkan oleh Freeman (1984), teori ini menekankan pentingnya memahami dan mengelola hubungan dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap organisasi. Dalam konteks komunikasi korporat, teori ini merupakan fondasi dalam merancang, melaksanakan, hingga mengelola strategi komunikasi yang efektif guna memahami harapan, para pemangku kepentingan, merawat hubungan harmonis, serta memitigasi risiko konflik yang merugikan organisasi.
2. Teori Legitimasi
Teori yang dikemukakan Dowling dan Pfeffer (1975) ini memandang legitimasi sebagai sumber daya penting yang bisa diraih melalui komunikasi korporat efektif. Dalam teori ini ditekankan bahwa organisasi harus berjalan sesuai dengan nilai, norma, dan harapan publik demi mempertahankan eksistensinya.
3. Teori “Agenda Setting”
Pertama kali diperkenalkan oleh McCombs dan Shaw pada 1972, pendekatan ini berfokus pada peran media dalam memengaruhi persepsi publik pada isu tertentu. Dalam konteks komunikasi korporat, teori ini memberikan pemahaman tentang bagaimana organisasi dapat menggunakan media untuk membentuk agenda publik dalam rangka membangun citra dan reputasi.
4. Teori Manajemen Kesan
Setiap individu atau organisasi akan terus berusaha mengontrol cara mereka dipersepsikan oleh orang lain. Hal inilah yang menjadi penekanan dalam teori manajemen kesan (impression management theory). Dalam konteks ini, menurut Goffman (1959), pemanfaatan simbol-simbol tertentu dapat membangun citra merek yang kuat, sekaligus memengaruhi kesan dan persepsi audiens.
Demikian empat teori yang dapat menjadi pedoman praktisi komunikasi korporat dalam menjalankan perannya. Semoga informasi ini bermanfaat, ya! (eda)
- BERITA TERKAIT
- Catat, Ini Tips Kuasai Komunikasi ESG untuk Bangun Kepercayaan Publik
- IDAI Sebut Komunikasi Empatik Jadi Kunci bagi Dokter Menjaga Kepercayaan Publik
- Riset Maverick Indonesia Ungkap “Marketplace” Jadi Rujukan AI di Industri Otomotif
- 5 Hambatan Utama yang Kerap Dihadapi Organisasi saat Mengomunikasikan ESG
- Ini 5 Langkah Bangun Kembali Kepercayaan Pascakrisis