Di tengah pesatnya perkembangan media sosial, kemampuan dokter membangun komunikasi yang empatik dinilai makin menentukan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Pendekatan yang mengedepankan empati, mendengarkan secara aktif, dan memahami kegelisahan pasien kini menjadi bagian penting dari pelayanan medis.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Transformasi ruang komunikasi di era digital membawa tantangan baru bagi profesi dokter dan tenaga kesehatan. Selain dituntut memberikan layanan medis yang berkualitas, mereka juga perlu membangun komunikasi yang empatik agar hubungan dengan pasien tetap terjaga di tengah derasnya arus percakapan di media sosial.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso, dalam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-72 IDAI di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurutnya, meningkatnya aktivitas masyarakat di media sosial membuat setiap pengalaman pasien terhadap pelayanan kesehatan dapat dengan cepat menjadi konsumsi publik.
Piprim mencontohkan, belakangan muncul berbagai curahan hati para ibu di media sosial yang mengaku merasa dihakimi ketika berkonsultasi dengan dokter. Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa kompetensi komunikasi tidak kalah penting dibandingkan kompetensi klinis dalam membangun kepercayaan pasien.
Oleh karena itu, ia mendorong para dokter dan tenaga kesehatan untuk lebih mengedepankan komunikasi empatik dengan mendengarkan keluhan pasien secara utuh, memahami kekhawatiran mereka, dan memberikan respons yang sesuai dengan kebutuhan pasien maupun keluarganya. "Jika kita dapat membantu menyelesaikan masalah mereka, berikan solusi yang terbaik. Namun, jika permasalahan tersebut berada di luar kompetensi kita, rujuklah kepada pihak yang lebih ahli," ujar Piprim dilansir Kompas.id, Minggu (14/6/2026).
Menurut Piprim, ruang praktik saat ini tidak lagi berhenti pada interaksi antara dokter dan pasien. Setiap pengalaman pelayanan berpotensi menyebar luas melalui media sosial dan membentuk persepsi publik terhadap profesi dokter maupun institusi layanan kesehatan. Oleh sebab itu, ia mengimbau seluruh anggota IDAI untuk makin dekat dengan masyarakat dan lebih peka terhadap persoalan yang dihadapi pasien.
Penekanan tersebut sejalan dengan konsep patient-centered communication yang diperkenalkan pakar kedokteran keluarga Moira Stewart. Dalam konsep tersebut, komunikasi dipandang sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan dengan menempatkan pasien sebagai mitra yang aktif dalam proses pelayanan.
Pendekatan ini mendorong dokter untuk tidak hanya berfokus pada diagnosis penyakit, tetapi juga pada upaya memahami pengalaman, kekhawatiran, kebutuhan, dan harapan pasien agar tercipta hubungan yang lebih terbuka dan saling percaya.
Kajian serupa juga dikemukakan Mohammadreza Hojat melalui konsep clinical empathy. Dalam penelitiannya mengenai pendidikan kedokteran, Hojat menjelaskan bahwa empati merupakan kompetensi profesional yang dapat dipelajari dan dikembangkan.
Ia menjelaskan bahwa dokter yang mampu memahami perspektif pasien serta mengomunikasikannya secara tepat dinilai lebih mampu membangun hubungan terapeutik, meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan, sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan.
Jaga Integritas Profesi
Selain komunikasi, Piprim juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas profesi. Ia menegaskan bahwa dokter tidak boleh mencari keuntungan melalui tindakan medis yang tidak memiliki indikasi yang jelas, seperti menganjurkan rawat inap tanpa alasan medis yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, praktik semacam itu berpotensi mencederai etika profesi dan mengikis kepercayaan masyarakat.
Selaras dengan itu, Piprim mengatakan, dokter anak dalam tanggung jawabnya berhadapan dengan tiga rambu utama, yakni rambu etik, disiplin profesi, dan medikolegal. Untuk itu, ia pun mengajak sejawatnya memperkuat disiplin profesi, menjunjung tinggi etika kedokteran, dan tidak melanggar rambu-rambu medikolegal. "Ketiga rambu tersebut menjadi pedoman yang membatasi sekaligus mengarahkan kita sebagai dokter agar dapat bekerja secara profesional dan tetap melayani masyarakat dengan baik," terangnya.
Lebih lanjut, Piprim mengakui bahwa IDAI saat ini juga menghadapi sejumlah tantangan organisasi, termasuk persoalan administratif, seperti pengurusan Satuan Kredit Profesi (SKP). Namun, tegasnya, dinamika tersebut tidak boleh mengurangi komitmen organisasi untuk terus memberikan pelayanan terbaik bagi anak-anak Indonesia. "Hari ini kita bisa menyaksikan bahwa ternyata masih banyak yang membutuhkan IDAI dan dokter anak di seluruh Indonesia. Kita bisa melihat antusiasme masyarakat untuk bertemu dengan dokter, diperiksa, dan mendapatkan layanan skrining," pungkasnya. (Fadhil Pramudya)
- BERITA TERKAIT
- Catat, Ini Tips Kuasai Komunikasi ESG untuk Bangun Kepercayaan Publik
- IDAI Sebut Komunikasi Empatik Jadi Kunci bagi Dokter Menjaga Kepercayaan Publik
- Riset Maverick Indonesia Ungkap “Marketplace” Jadi Rujukan AI di Industri Otomotif
- 5 Hambatan Utama yang Kerap Dihadapi Organisasi saat Mengomunikasikan ESG
- Ini 5 Langkah Bangun Kembali Kepercayaan Pascakrisis