Pemulihan reputasi perusahaan setelah krisis dinilai tidak cukup hanya melalui klarifikasi atau pernyataan resmi. Dibutuhkan konsistensi tindakan, keterbukaan, serta transformasi nyata agar kepercayaan publik dapat kembali terbangun.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Di tengah derasnya arus media sosial, krisis reputasi dapat muncul dan menyebar dengan cepat hanya dalam hitungan menit. Karena itu, kemampuan perusahaan dalam merespons dan memulihkan kepercayaan publik pascakrisis menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan reputasi organisasi.
Managing Director Leidar USA Meghan Tisinger menilai, fase pemulihan reputasi merupakan momentum penting untuk menunjukkan karakter dan kredibilitas perusahaan di mata publik. Menurutnya, organisasi perlu mengambil langkah strategis yang tidak hanya berfokus pada pengendalian isu, tetapi juga membangun kembali hubungan dengan para pemangku kepentingan.
Dilansir PR Daily, Kamis (31/7/2025), Meghan memaparkan lima langkah yang dapat diterapkan perusahaan dalam proses pemulihan reputasi pascakrisis, yakni:
1. Akui dan hadapi realitas krisis
Perusahaan dinilai perlu bersikap terbuka terhadap isu yang berkembang dan tidak berupaya menutupinya. Publik, menurut Meghan, lebih menghargai transparansi dibanding penyangkalan. "Tanggapi isu dengan jelas, dengan kerendahan hati, serta tunjukkan narasi penerimaan dan pertumbuhan, bukan penolakan,” ujarnya.
2. Lakukan pembenahan internal
Pemulihan reputasi perlu dimulai dari dalam organisasi melalui komunikasi terbuka dengan karyawan, evaluasi internal, hingga investigasi independen bila diperlukan. Kepercayaan internal dianggap menjadi fondasi penting dalam membangun kembali citra perusahaan.
3. Libatkan karyawan sebagai duta kepercayaan
Karyawan dinilai memiliki peran strategis dalam mengembalikan kredibilitas organisasi. "Karyawan adalah audiens pertama sekaligus duta yang paling berpengaruh,” kata Meghan. Oleh karena itu, lanjut dia, perusahaan perlu memastikan seluruh karyawan memahami langkah pemulihan yang dijalankan organisasi.
4. Bangun narasi perubahan yang konsisten
Meghan menekankan bahwa pemulihan reputasi bukan proses instan, melainkan membutuhkan transparansi dan konsistensi dalam setiap tindakan perusahaan. "Pastikan pernyataan yang telah disampaikan kepada publik sejalan dengan langkah nyata perusahaan sehari-hari,” ucapnya.
5. Fokus pada transformasi nyata
Perusahaan perlu menunjukkan perubahan melalui kebijakan baru, penguatan budaya kerja, maupun inisiatif strategis lainnya yang relevan dengan akar persoalan krisis. "Ketika perubahan benar-benar terasa, kepercayaan publik dapat kembali, bahkan lebih kokoh dari sebelumnya,” tutup Meghan. (Fadhil Pramudya)
- BERITA TERKAIT
- Ini 5 Langkah Bangun Kembali Kepercayaan Pascakrisis
- Profesor UI Sebut Komunikasi Risiko Jadi Kunci Penanganan Bencana
- Menyoal Makna Keikhlasan Iduladha agar Tak Bergeser di Ruang Digital
- Catat, Ini 3 Langkah Bangun Sikap Proaktif bagi Praktisi PR
- Edelman Trust Barometer 2026 Ungkap Soal Kepercayaan Publik dan Insularitas