Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Syamsi Hari, setiap calon tenaga kerja perlu memandang sertifikasi kompetensi BNSP sebagai suatu keharusan untuk mendukung karier profesional dan posisi jabatan tertentu.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Di era sekarang, ijazah pendidikan formal saja belum cukup untuk menjamin seseorang akan memperoleh pekerjaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,46 juta orang. Fenomena ini menegaskan bahwa dunia kerja membutuhkan pendokrak lain selain pendidikan formal, seperti salah satunya sertifikat kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.
Dijelaskan oleh Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Syamsi Hari, setiap calon tenaga kerja perlu memandang sertifikasi kompetensi BNSP sebagai suatu keharusan untuk mendukung karier profesional dan posisi jabatan tertentu. “Di bidang digital public relations hanya orang yang punya sertifikat kompetensi di bidang tersebut yang akan lolos dalam seleksi,” ujarnya dilansir dari TRIBUNNEWS.com, Selasa (27/1/2026).
Menyambung Syamsi, Ketua LSP P3 Proki Dewi S. Tanti menjelaskan, proses sertifikasi akan memastikan seseorang punya kompetensi yang mumpuni. Sebagaimana LSP P3 Proki yang dibentuk oleh asosiasi profesi, katanya, para peserta seperti pada skema junior public relations atau senior digital public relations, akan mendapatkan penilaian kompetensi yang menyeluruh mulai dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja, sebelum akhirnya merekomendasikan hasil uji dan memberikan rekomendasi penerbitan sertifikat dari BNSP.
Peran Korporasi dan Organisasi Dalam Pengembangan Talenta
Terlepas dari persaingan mendapat pekerjaan, CEO & Principal Consultant Kiroyan Partners Verlyana Hitipeuw dalam majalah PR INDONESIA edisi 108 Mei – Juni berpendapat, industri public relations (PR) juga perlu berperan aktif dalam mengembangkan keterampilan para karyawan yang sebagian besar berasal dari lulusan baru. Dengan kata lain, sertifikasi juga penting bagi praktisi PR yang sudah berada di dalam dunia kerja.
Perempuan yang karib disapa Veve itu menilai pentingnya pelatihan lanjutan dan sertifikasi relevan untuk memperdalam pengetahuan dan kompetensi mereka. “Di KP, para karyawan menjalankan program personal development untuk mengetahui dan mengidentifikasi skillset yang perlu ditingkatkan di setiap anggota tim,” jelasnya mencontohkan praktik di tempatnya bekerja.
Penguatan kompetensi bagi para profesional juga diupayakan beberapa organisasi profesi PR di Indonesia. Asosiasi Perusahaan Public Relations (APPRI), misalnya, melalui bidang pendidikan dan pelatihan menghadirkan berbagai inisiatif, mulai dari APPRI Connect, kelas pelatihan APPRI Academy, sertifikasi profesi PR hingga menginisiasi program inkubasi bernama APPRIentiece. Sementara itu, Perhimpunan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS) Indonesia diketahui juga memiliki program Akreditasi Profesi PERHUMAS bagi para anggotanya. (EDA)
- BERITA TERKAIT
- Tentang Sertifikasi yang Penting bagi Calon PR Maupun Para Profesional
- Mengenal Kerangka “ROPE” dalam Merancang Komunikasi Strategis
- Tentang Peran PR Ketika Reputasi Makin Diperhatikan “Stakeholder”
- 4 Hal yang Wajib Dipahami dan Dipegang Erat Setiap Praktisi PR
- Catat! 4 Hal Penting untuk Menavigasi Tren PR di 2026