Berkaca dari kasus komunikasi nirempati sejumlah tenaga kesehatan beberapa waktu lalu, Kepala Bidang Humas Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) DR.dr. Cashtry Meher menekankan pentingnya empat agenda strategis ini.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Komunikasi nirempati dari beberapa tenaga kesehatan (nakes) yang ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu menegaskan urgensi perbaikan pelayanan kesehatan di Indonesia. Kepala Bidang Humas Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Dr. dr. Cashtry Meher menyampaikan, tindak lanjut terhadap kasus tersebut tidak cukup dengan hanya mengajak para nakes untuk lebih berempati, tetapi harus memastikan tumbuhnya empati pada setiap lini sistem pelayanan kesehatan.
Menurut Cashtry, empati tidak hanya bergantung pada niat baik individu semata, tetapi harus dipelihara oleh budaya organisasi, diperkuat melalui pendidikan, dan dilindungi oleh sistem yang sehat. “Disinilah kepemimpinan institusi menjadi sama pentingnya dengan profesionalisme individu,” ujarnya dikutip dari RM.id, Kamis (6/8/2026).
Kata Cashtry, setidaknya terdapat empat agenda strategis yang perlu terus diperkuat untuk memastikan hal tersebut. Apa saja?
1. Perkuat Pendidikan Komunikasi Empatik
Komunikasi empatik, terang Cashtry, harus menjadi bagian dari kompetensi inti tenaga medis dan tenaga kesehatan. Ini, tegasnya, sudah harus dimiliki sejak pendidikan profesi hingga pengembangan profesional berkelanjutan.
2. Perkuat Etika Digital
Alumnus Universitas Sumatera Utara ini menilai, era ritme gejolak media sosial membuktikan bahwa identitas profesional tidak copot ketika nakes meninggalkan ruang praktik saja. “Setiap komunikasi di ruang publik membawa konsekuensi terhadap kepercayaan masyarakat. Untuk itu, para tenaga kesehatan perlu menjaga etika dan identitas profesional hingga ke ruang digital,” jelasnya.
3. Bangun Sistem Pencegahan “Burnout”
Membangun sistem pencegahan burnout yaitu kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang amat berat akibat stres kerja atau beban hidup yang menumpuk dan berlangsung lama, kata Cashtry, dapat dilakukan dengan beberapa cara. Mulai dari membangun lingkungan kerja yang sehat, adanya dukungan psikososial, kepemimpinan yang suportif, serta tata kelola yang berpihak pada keselamatan pasien maupun nakes.
4. Bangun “Patient Safety Culture”
Menurut Cashtry, membangun sekaligus memperkuat budaya keselamatan pasien (patient safety culture) dapat menjadi sebuah pembelajaran, perbaikan berkelanjutan sekaligus bentuk dari keterbukaan yang akan terus mengakar pada karakter utama dari setiap organisasi pelayanan kesehatan.
Cashtry menegaskan, keempat agenda di atas harus berjalan secara berdampingan baik dari organisasi profesi, institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah, media dan masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem dalam membangun kepercayaan publik secara bergotong royong. (Evira Anyelia)
- BERITA TERKAIT
- Kepala Humas PB IDI Sebut 4 Hal Penting Demi Perbaikan Pelayanan Kesehatan
- Guna Hadapi Krisis, Perhumas Makassar Serukan Pentingnya Kolaborasi “Pentahelix”
- ASPIKOM Jatim dan UM Dorong Peningkatan Kontribusi Ilkom di Tingkat Global
- Pakar Soroti Kasus Komunikasi Nirempati Sejumlah Dokter di Media Sosial
- Tentang Ancaman Era “Post-Truth” dan “Deepfake” dalam Praktik PR Kiwari