Mengintip Upaya BRIN Menjalankan Komunikasi Sains Kepada Publik

PRINDONESIA.CO | Rabu, 02/09/2026
BRIN saat menerima kunjungan mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Rabu (26/8/2026).
doc/ BRIN

Ketua Tim Komunikasi Publik BRIN Muhammad Fadly Suhendra menekankan bahwa komunikasi sains terus digencarkan agar seluruh elemen audiens dari peneliti, pembuat kebijakan hingga masyarakat  lebih terinformasi.  

TANGERANG SELATAN, PRINDONESIA.CO – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengoptimalkan komunikasi publik guna menjembatani hasil riset dan inovasi kepada masyarakat. Hal ini ditekankan oleh Ketua Tim Komunikasi Publik BRIN Muhammad Fadly Suhendra. Ia mengatakan, saat ini BRIN terus menggencarkan komunikasidengan pendekatan science to science, science to policy, dan science to society, sehingga informasi riset dapat menjangkau peneliti, pembuat kebijakan hingga masyarakat. 

Dalam praktiknya, terang Fadly, BRIN turut memanfaatkan berbagai kanal komunikasi. Mulai dari situs web, media sosial, BRIN TV, webinar, podcast, hingga publikasi ilmiah dan repositori karya ilmiah. “Cara-cara ini akan mampu meningkatkan visibilitas hasil riset sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap informasi sains,” jelasnya saat menerima kunjungan mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Rabu (26/8/2026). 

Fadly juga menggarisbawahi bahwa kegiatan kunjungan seperti dilakukan para mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta ini juga menjadi salah satu upaya BRIN dalam memberikan edukasi kepada mahasiswa yang ingin mengetahui dunia kerja sekaligus praktik komunikasi publik yang diterapkan institusi negara tersebut. 

Menjembatani Kesenjangan 

Upaya komunikasi sains yang digencarkan BRIN sejalan dengan pandangan dari mantan President PCST Global Network for Science Communication Prof. Cho Sook. Menurutnya, dalam konteks kekinian komunikasi sains bukan lagi berperan sebagai pilihan pengingat dampak besar yang bisa diciptakan, tetapi untuk menjembatani kesenjangan antara ahli dan warga. 

Dalam praktiknya, terang Cho, komunikasi sains perlu mempertimbangkan konteks budaya baik nilai-nilai sosial, norma sosial, dan cara pandang masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Hal tersebut penting karena pemahaman terhadap sains turut dipengaruhi oleh tradisi, kepercayaan, dan struktur sosial yang beragam. “Meskipun produksi dan pemahaman sains dalam komunikasi ilmiah bersifat global, tetapi cara sains dikomunikasikan dan dipahami harus disesuaikan dengan karakter budaya audiens setiap wilayah,” pungkasnya. (Evira Anyelia)