HOME » EVENT » AWARDS

Kesan dan Catatan Dewan Juri Tentang Peserta KaHI 2026

PRINDONESIA.CO | Rabu, 16/09/2026
Ketiga dewan juri Kartini Humas Indonesia (KaHI) 2026.
doc/PR INDONESIA

Ketiga dewan juri menilai sosok KaHI kiwari perlu memiliki kemampuan komunikasi yang kuat, mampu membaca persoalan di sekitar dan menghadirkan dampak yang nyata dan  berkelanjutan.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Ajang Kartini HUMAS INDONESIA (KaHI) 2026 tidak hanya mencari humas atau public relations (PR) perempuan yang piawai berkomunikasi, tetapi juga sosok yang mampu menunjukkan kualitas, keberanian, ketahanan, serta dampak nyata melalui perjalanan profesionalnya. Hal ini ditegaskan ketiga dewan juri KaHI 2026 sebagai salah satu kriteria pemenang.

Selaras dengan itu, ada pula hal-hal pendukung yang tidak boleh luput ditunjukkan para peserta. Salah satunya kemampuan public speaking, yang oleh juri Dyah Rachmawati Sugiyanto dinilai cukup dimiliki para peserta KaHI 2026. “Mayoritas peserta memiliki vokal dan intonasi yang bagus, kemampuan mengelola emosi yang baik dan menguasai substansi. Sebab, tempo bicara terpaksa harus cepat karena waktu yang diberikan sangat terbatas,” ujar Anggota Dewan Kehormatan Ikatan Pranata Humas Indonesia (IPRAHUMAS) sekaligus Pranata Humas Ahli Madya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) itu kepada PR INDONESIA, Kamis (10/9/2026).

Namun, menurut Dyah, kemampuan tersebut tetap perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap esensi Kartini Humas. Dalam konteks ini, Dyah menekankan, peserta tidak cukup hanya menunjukkan kemampuan menjalankan fungsi kehumasan, tetapi juga perlu merepresentasikan nilai-nilai Kartini dalam dirinya yang mencakup cerdas, berani, berempati, dan bersahaja.

Menceritakan Proses Di balik “Pencapaian”

Sementara itu juri Fiona Sari Utami yang mengapresiasi keberagaman latar belakang para peserta KaHI 2026, menekankan pentingnya kemampuan peserta menunjukkan kondisi awal, aktivitas yang dilakukan, pihak yang menjalankan program, hingga perubahan yang terjadi setelah intervensi komunikasi dilakukan dalam penilaiannya. “Selain itu saya menitikberatkan juga keberanian peserta yang bersedia mengangkat isu yang berisiko bagi reputasi institusi sendiri. Sebagai profesional komunikasi, saya melihat bahwa kredibilitas humas tidak diuji saat kita dalam posisi baik, tetapi juga saat krisis,” jelas Senior Manager Corporate Secretary PT Pelabuhan Tanjung Priok (Pelindo Grup), Senin (14/9/2026).

Pandangan serupa turut disampaikan Vice Rector I for Academic, Research & Partnership Affairs LSPR Institute Assoc Prof Dr Janette Maria Pinariya. Ia melihat peserta KaHI 2026 semakin beragam dan mampu menunjukkan bukan hanya apa yang telah dilakukan, tetapi juga alasan di balik pentingnya sebuah program dan kontribusi yang dihasilkan.

Janette menjelaskan, penilaian KaHI sejatinya mencakup kualitas dan rekam jejak, kemampuan mengidentifikasi serta merespons isu, presentasi, hingga keberlanjutan. “Semua itu terlihat dari proses, roadmap, output, outcome, dan impact. Sehingga, peserta perlu menunjukkan perjalanan yang utuh, bukan sekadar daftar pencapaian,” ujarnya, Selasa (15/9/2026).

Menurut Janette, peserta dengan performa yang kuat umumnya mampu menjawab tiga hal yaitu: What have you done?, Why does it matter?, And what impact will it create going forward?. Tidak luput, Janette juga mengingatkan peserta untuk tetap autentik dalam menyampaikan pengalaman dan pencapaiannya.

Pada akhirnya, ketiga dewan juri melihat sosok Kartini Humas bukan sekadar perempuan yang mampu berbicara dengan baik atau memiliki rekam jejak panjang, tetapi mampu membaca persoalan, menyusun gagasan berbasis data, menjalankan proses secara konsisten, membuktikan dampak, serta berani bersuara dengan integritas. Sebab, di tengah benturan perubahan lanskap komunikasi, kualitas tersebut menjadi modal penting agar perempuan humas tidak hanya hadir sebagai komunikator, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di organisasi dan masyarakat. (Evira Anyelia)