Agensi PR Prologue Indonesia Tegaskan Pentingnya Komunikasi yang Terintegrasi

PRINDONESIA.CO | Senin, 21/09/2026
Agensi PR Prologue Indonesia
doc/Prologue.id

Integrasi komunikasi dan pemanfaatan AI mampu mendorong praktisi PR dalam menghadirkan komunikasi yang lebih strategis dan berdampak kini dan nanti.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Setiap perusahaan maupun organisasi perlu membangun komunikasi yang terintegrasi baik di lingkup internal maupun eksternal. Namun, dalam konteks kekinian, integrasi yang dimaksud bukan lagi sebatas menyatukan berbagai kanal dan aktivitas komunikasi, tetapi memastikan seluruh elemen berjalan dalam satu tujuan perusahaan. Hal ini ditegaskan oleh CEO Prologue Indonesia Dody Siregar.

Dody menjelaskan, integrasi komunikasi tidak hanya menggabungkan berbagai layanan dalam satu perusahaan, tetapi memastikan seluruh aktivitas berangkat dari pemahaman yang sama mengenai bisnis, stakeholder dan risiko. “Persoalannya bukan apakah perusahaan harus memilih PR atau digital, earned media atau paid media, tapi apakah riset, reputasi, kreativitas, distribusi, dan evaluasi dibangun berdasarkan satu pemahaman mengenai bisnis, stakeholder, dan risiko,” kata Dody dikutip dari Jakartakita.com, Minggu (13/9/2026).

Menurut alumnus Delhi University itu, implementasi integrasi komunikasi perlu memperhatikan batas antara fungsi editorial dan komersial. Hal ini mencakup independensi pemberitaan, transparansi konten berbagai serta kejelasan hubungan dengan kreator. Di tengah pesatnya teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mengubah cara kerja industri, Dody menilai realitas tersebut perlu dimanfaatkan untuk membantu riset, monitoring, pemetaan percakapan, analisis data, hingga deteksi early warning system terhadap isu maupun risiko reputasi.

Pendekatan “Human Wisdom + AI Intelligence”

Berangkat dari hal tersebut, Dody bersama timnya mengembangkan pendekatan Human Wisdom + AI Intelligence. Pendekatan ini, terang Dody, menempatkan AI sebagai teknologi yang memperluas kemampuan manusia dalam mengolah informasi dan menemukan pola, sementara interpretasi konteks, stakeholder, risiko, etika dan pengambil keputusan tetap menjadi tanggung jawab manusia.

Sejalan dengan itu, PR Director Prologue Indonesia Adam Rinaldi menilai, peningkatan kapasitas praktisi PR terkait teknologi, data, strategic advisory, inovasi dan pengukur dampak menjadi semakin penting dan harus terus diperbarui.

Pada akhirnya, pengalaman praktisi PR, kata Adam, perlu terus diuji dan diperkaya dengan kemampuan berbasis data serta kompetensi baru. “Sehingga perpaduan tersebut mampu menjawab kebutuhan klien dan lanskap komunikasi yang semakin kompleks,” pungkasnya. (Evira Anyelia)