Kampanye Lewat Podcast, Apa Saja Persiapannya?

PRINDONESIA.CO | Senin, 16/11/2020
Podcast dapat meningkatkan brand recall
Dok. Istimewa

Kampanye lewat podcast dapat meningkatkan brand recall. Berikut ini beberapa hal yang harus dipersiapkan.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Sejak ada siniar, atau kita mengenalnya dengan nama podcast, kanal audio kembali mendapat tempat di hati masyarakat. Alasannya, medium ini bersifat personal dan mendukung pendengarnya melakukan kegiatan multitasking. Ya, mereka tidak perlu lagi memperhatikan pesan secara visual, cukup mendengar informasi via suara. 

“Seperti halnya mendengar radio saat dalam perjalanan, olahraga, atau bekerja,” kata Digital Brand & Marketing Communication Strategist PT Smartfren Aldridge Christian Seubelan saat menjadi pembicara Indonesia Content Marketing Forum (ICMF) secara virtual, Kamis (10/9/2020).

Peminat podcast di Indonesia pun makin meningkat. Peluang ini ditangkap oleh pelaku pemasaran juga public relations (PR), terutama untuk menyuarakan brand.  “Kita mengenal  sonic brand identity,” ujarnya. Yakni, suara yang dapat mengingatkan publik kepada suatu brand tanpa menyebutkan merek itu sendiri.

Inilah yang kemudian memicu brand recall. Atau, kemampuan konsumen untuk mengenali suatu produk saat mendengar audio khas dari brand tersebut.

Lima Persiapan

Nah, untuk sampai ke tujuan itu, Aldridge merangkum beberapa persiapan yang harud dilakukan ketika akan melakukan lewat podcast. Pertama, mengetahui posisi brand. “Kita harus mengetahui posisi brand di antara kompetitor,” ujarnya.

Selain itu, tujuannya untuk mengetahui nilai-nilai pada brand, visi, dan misi brand. “Inilah yang akan menjadi pedoman kita dalam membuat kampanye,” sambungnya.

Kedua, menentukan target audiens. “Kita harus mengetahui siapa audiens kita, berikut perilaku mereka,” katanya. Ketiga, menentukan persona. “Merek kita adalah seperti yang orang lain katakan tentang kita ketika kita tidak ada di ruangan bersama mereka,” ujarnya.

Selain itu, kita juga harus menyesuaikan persona yang ingin ditampilkan kepada audiens. Misalnya, Smartfren sebagai lifestyle provider yang memberi dampak untuk konsumen Indonesia. Maka, perusahaan penyedia layanan telekomunikasi itu harus mampu menunjukkan persona itu di setiap event/kegiatan/kampanye mereka. 

Keempat, menentukan format podcast. Bentuknya dapat berupa interview, solo, maupun multihost podcast. Kelima, jangan ragu untuk terus belajar dan melakukan evaluasi berkala dengan mengadakan riset kepada audiens atau focus group discussion. “Pasti ada trial error. Tapi, proses ini adalah usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan brand persona yang kuat di mata audiens,” tutupnya. (rvh)