
Hingga saat ini profesi public relations (PR) masih identik dengan perempuan. Sosok perempuan yang notabene juga seorang istri dan ibu dengan segenap filosofi dan nilai-nilai yang dianut turut memengaruhi mereka dalam melakoni profesi sebagai PR.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Inilah yang dialami oleh keenam perempuan, yang juga ibu muda. Dan, kesemuanya berprofesi sebagai PR. Mereka adalah Fenny Sofyan (Astra Agro Lestari), Dian Amintapratiwi (Lembaga Manajemen Aset Negara/LMAN), Dini Endiyani (IPC), Sari Soegondo (ID Comm), Pramita (Parador Hotels and Resorts), Arninta Puspitasari (Nutrifood), serta Indriyanti Siswati (Bumi Suksesindo). Keenamnya berbagi kisah di web seminar MAW Talk ke-20, Selasa (22/12/2020).
Menurut Arninta, mengenal karakter sudah menjadi bagian dari aktivitas PR. Ini pula yang dilakukan oleh seorang Ibu. “Dengan mengenal karakter akan terbangun simpati, empati hingga compassion yang menjadikan komunikasi berjalan lebih mudah,” katanya.
Menjadi ibu juga PR, membuat Indriyati memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Sementara bagi Mita, sebagai PR di pemerintahan, mendengarkan dengan hati, nurani, dan berupaya memosisikan diri di posisi mereka tanpa mengurangi wibawa sebegai pemerintah, adalah kunci.
Seimbang
Sementara itu, Sari menekankan pentingnya waktu yang berkualitas dalam menjalankan perannya sebagai ibu juga PR. Kualitas dikompensasikannya dengan waktu, mengobrol secara mendalam, meluangkan waktu khusus untuk berbicara lewat telepon, makan malam bersama, dan menyediakan waktu bersama pasangan.
Sari memberi trik dan tips yang cukup berhasil ia terapkan bersama keluarganya di rumah. Yakni, disiplin bekerja dan belajar seperti hari-hari biasa, namun dari rumah. Sementara untuk menyiasati agar terhindar dari stres, ia bersama keluarganya berupaya untuk membangun suasana nyaman, tidak panik dan takut berlebihan. Dengan cara waspada serta patuh menjalankan protokol kesehatan. “Sekali-sekali, saya mengizinkan anak-anak ke luar. Kami juga meluangkan waktu untuk berkegiatan di luar untuk menjaga kewarasan dan produktivitas. Tentu, dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan,” katanya.
Life balance adalah prinsip yang dijalankan Dini agar dapat fokus bekerja ketika di kantor dan tetap memiliki waktu berkualitas bersama keluarga. Salah satunya, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu agar ia juga dapat kembali ke rumah tepat waktu. “Saya sengaja tidak membawa laptop ke rumah agar pola pikir yang terbangun ketika pulang adalah saya fokus bercengkerama dengan keluarga,” katanya.
Sementara Feny menekankan pentingnya berkomitmen sebagai ibu dan profesional. “Kegiatan seperti memandikan dan memberikan ASI, menyiapkan kebutuhan anak adalah komitmen saya sebagai ibu,” ujarnya. Ia berupaya menjalankan perannya sebagai ibu yang bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya, pun sebagai profesional, panutan bagi timnya. (rha)
- BERITA TERKAIT
- 4 Pendekatan PR untuk Merespons Perubahan Lanskap Media
- 4 Saran dari Praktisi Komunikasi Profesional untuk Tingkatkan “Skill” Menulis
- 4 Kiat Praktis Penggunaan AI untuk Kesuksesan PR
- 5 Langkah Memastikan Teks Hasil AI Lebih Berkualitas
- 5 Kesalahan Umum yang Sering Bikin Strategi PR Gagal