Mengapa Praktisi PR Jarang Melakukan Riset?

PRINDONESIA.CO | Jumat, 12/11/2021
Tanpa adanya riset, mustahil praktisi PR bisa membuat program komunikasi yang komprehensif dan kohesif.
Dok. PR INDONESIA

Riset pada dasarnya merupakan hal fundamental yang harus dilakukan oleh setiap praktisi public relations (PR) untuk memulai kegiatan atau program komunikasi. Faktanya, budaya riset di kalangan praktisi PR di tanah air masih rendah. Mengapa?

 

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Hal ini diungkapkan oleh inisiator Indonesia Public Relations Research Forum (IPRRF) Elizabeth Goenawan Ananto saat peluncuran IPRRF secara virtual, Kamis (11/11/2021). Menurutnya, berdasarkan hasil riset kepada 94 responden yang terdiri dari CEO (16%), direktur (25%), manajer dan supervisor (58%) diketahui 64% menganggap riset sangat penting. Namun, hanya 36% yang sering melakukan. Sebaliknya, jarang melakukan (35%).

Padahal, kata Ketua Umum BPP Perhumas Agung Laksamana, tanpa adanya riset, mustahil praktisi PR bisa membuat program komunikasi yang komprehensif dan kohesif. Terutama, dalam mencapai tujuan dari objektif perusahaan. 

Lainnya yang menjadi sorotan adalah kemampuan PR dalam menganalisis data, lalu menuangkannya ke dalam program yang aplikatif. “Poin ini tak kalah penting. Sebab, faktanya data ada di mana-mana, tapi kita tidak mampu menjadikan data tersebut sebagai informasi yang dapat diaplikasikan,” ujar pria yang kini menjabat sebagai EVP Government Relations, External Affairs & Corpcomms Freeport Indonesia.  

Data Analytics
Sementara menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan PR Indonesia (APPRI) Jojo S. Nugroho, riset bisa menjadi penjembatan antara PR dengan CEO. Sekaligus, membuktikan PR dapat berperan secara strategis sebagai enabler bagi korporasi dalam mencapai targetnya. "Dengan kemampuan data analytics, PR bisa berbicara berdasarkan data untuk kemudian disampaikan kepada CEO," ujar pria yang juga menjabat sebagai Managing Director IMOGEN PR itu.

Seperti halnya PR, hingga saat ini belum banyak agensi PR yang menguasai digital dan big data. Dari sekian banyak perusahaan agensi PR, hanya 10 – 15% yang memiliki spesialisasi di bidang itu. Sebanyak 60% masih didominasi oleh layanan media relations. Permintaan klien terhadap layanan di bidang digital, riset, data analytics, strategic planning, hingga audit komunikasi baru meningkat justru di saat pandemi.

Di satu sisi, saat ini media juga sedang melakukan riset mendalam. Terutama, untuk mengetahui model bisnis yang paling relevan untuk keberlanjutan pers di masa mendatang. Riset dilakukan oleh Dewan Pers melalui Kelompok Kerja Sustainability Media. Menurut founder dan CEO PR INDONESIA Group Asmono Wikan, hasil riset ini tentunya akan berdampak pada industri PR karena keduanya merupakan mitra yang saling membutuhkan. (ais)