Menjadi PR yang Inovatif

PRINDONESIA.CO | Rabu, 09/11/2022
Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia, saat mengisi sesi konferensi Jambore PR Indonesia (JAMPIRO) #8 di Surabaya, Selasa (8/11/2022).
Dok. PR INDONESIA

Di era yang kian dinamis, setiap organisasi harus selalu siap dengan segala skenario dan situasi apa pun.  Kondisi yang penuh dinamika ini harus didukung dengan optimisme yang tinggi dibarengi inovasi dan komunikasi.

SURABAYA, PRINDONESIA.CO – Menurut Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia, saat menjadi pembicara di sesi konferensi Jambore PR Indonesia (JAMPIRO) #8 yang berlangsung di Surabaya, (8/11/2022), inovasi adalah hal mutlak yang harus dilakukan oleh setiap organisasi. Inovasi itu biasanya lahir sebagai jawaban atas suatu tantangan.

Namun, kata pria yang sudah malang melintang di industri fast moving consumer goods ini, inovasi saja tidak cukup. “Inovasi itu perlu didukung oleh upaya kita mengomunikasikannya,” ujarnya. Sebab sejatinya, hal yang paling berkelanjutan dari manusia adalah komunikasinya.

Inovasi memang harus dilakukan dari hulu ke hilir. Tapi, inovasi itu juga perlu dikomunikasikan dengan cara-cara yang inovatif agar dapat dengan mudah diterima dan didukung oleh target audiens. Dengan cara tersebut, organisasi akan semakin dikenal. “Semakin perusahaan itu dikenal khalayak, semakin eksis dan berlanjutan pula bisnisnya.  

Komunikasi tersebut harus selalu ditingkatkan baik melalui konten, konteks, saluran komunikasinya, maupun teknologi pendukungnya. Selain itu, setiap organisasi harus menyiapkan infrastruktur komunikasi. Dengan demikian, konsumen akan selalu terkoneksi dengan brand dan organisasi yang bersangkutan.

“Adalah peran kita semua yang berada di ruangan ini untuk mengomunikasikan inovasi tersebut,” kata pria yang sebelumnya menjabat sebagai Head of Corporate Affairs Sari Husada itu.

 

Ujung Tombak

Praktisi PR memiliki tugas dan peran untuk mampu menceritakan tentang organisasi atau perusahaannya. Kemudian, menceritakan inovasi yang telah dilakukan oleh perusahaan. Tak cukup sampai di situ, PR juga berperan meningkatkan kehadiran perusahaan di mata khalayak atau stakeholder. Di samping mampu memberikan masukan dan saran kepada perusahaan pada saat terjadi krisis. Bahkan, alangkah lebih baiknya apabila PR mampu menganalisis keadaan yang pada akhirnya membantu perusahaan terhindar dari krisis. 

Bicara soal komunikasi, PR juga harus mampu berpikir kreatif untuk mengkreasikan konten dan konteksnya. Tentu saja, konten tersebut harus yang berkualitas dan memiliki nilai. Dengan kata lain, konten tersebut mampu menjadi landasan dan jembatan yang efektif dalam berkomunikasi. “Oleh karenanya, PR tidak hanya berperan sebagai ujung tombak, tapi juga di hulu atau pucuknya,” tuturnya.

Bagi Danone Indonesia, komunikasi eksternal inovatif yang dilakukan untuk kalangan eksternal adalah melakukan tatap muka. Menurut Arif, aktivitas tatap muka ini penting karena mereka meyakini filosofi seeing is believing (melihat baru percaya). Selain itu, komunikasi yang inovatif itu perlu dukungan dari para pemangku kepentingan, harus relevan dengan audiens, serta dukungan komunikasi digital. (rnd)