Simak 9 Tantangan PR Pascapandemi

PRINDONESIA.CO | Rabu, 09/11/2022
Steve Saerang, International Relations PERHUMAS saat mengisi sesi konferensi JAMPIRO #8 di Surbaya
Dok. PR INDONESIA

Saat ini dunia telah memasuki periode pascapandemi. Masa di mana setiap orang sudah terbiasa melakukan kegiatan secara daring. Lantas, tantangan apa saja yang bakal dihadapi public relations (PR) pascapandemi?

Surabaya, PRINDONESIA.CO - Tantangan berkomunikasi menjadi semakin melejit di era pascapandemi. Di hadapan para peserta sesi konferensi Jambore PR INDONESIA (JAMPIRO) #8 bertajuk "Strengthening Innovative Communication Strategy for Sustainable Organization” di Surabaya, Selasa (8/11/2022), Steve Saerang, International Relations PERHUMAS, membeberkan sembilan tantangan yang akan dihadapi oleh praktisi PR pascapandemi. Simak penuturan pria yang juga merupakan SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison di bawah ini:   

1. Relevansi

Relevansi tak hanya soal konten dan target audiens. Tapi juga terkait relevansi fungsi PR baik untuk kalangan internal maupun eksternal.

2. Growth Contributor

Menurut Steve, saat ini antara fungsi PR dengan sales sudah saling terkorelasi. Apabila setiap fungsi di departemen tidak memiliki daya atau pengaruh yang kuat terhadap pertumbuhan perusahaan, maka sulit bagi manajemen untuk memberikan anggaran. Salah satu strategi untuk memastikan aktivitas PR berkontribusi terhadap pertumbuhan bisnis adalah dengan melakukan pengukuran AMEC Integrated Framework. 

3. Advisor

Steve berpendapat PR harus bisa memiliki positioning sebagai advisor kepada manajemen. Termasuk, board of directors, bahkan tak menutup kemungkinan kepada shareholder.

4. Motivator

Selain itu, PR juga harus menjadi sosok motivator. Setiap karyawan pasti menginginkan adanya perwakilan dari perusahaan yang bisa memberikan kabar baik sehingga mereka pun bisa memberikan kontribusi yang lebih baik kepada organisasi.

5. Digital Champion

Komunikasi digital kerap melekat pada fungsi PR. Oleh karenanya, PR harus bisa memperkuat program digitalisasi dan mempercepat transformasi digital perusahaan.

6. Truth-Teller

Setiap praktisi PR harus mampu menyampaikan kebenaran melalui substansi komunikasi. Apalagi di masa pandemi. Kekhawatiran dan ketidakpastian yang marak pada masa itu, justru menjadi ruang bagi berkembangnya berita-berita palsu. Sebagai PR, mereka pun dituntut untuk memiliki kemampuan untuk dapat mengatasi serta mengelola berita palsu agar tidak sampai mengancam reputasi. 

7. Ethic Reminder

Tidak ada jalan pintas dalam menyelesaikan setiap masalah. Begitu pula peran PR dalam mengatasi krisis di organisasi. Steve meminta kepada seluruh peserta agar jangan tergiur melakukan strategi yang melanggar etika demi mendapatkan keuntungan. “Sebagai PR, kita harus berani menjadi sosok yang tegas kepada pihak manajemen untuk menghindari pelanggaran etika,” katanya.

8. Consolidating

Tantangan PR yang tak kalah menantang lainnya pascapandemi adalah kemampuan untuk mengonsolidasikan objektif dan kebutuhan dari semua stakeholder. Sementara setiap bagian dari organisasi pasti memiliki ego untuk memajukan divisinya. Dalam kondisi seperti ini, PR harus mampu menjadi penengah dan penyeimbang agar semua divisi organisasi mau bekerja sama untuk menciptakan kebijakan yang memiliki berdampak dan memiliki pengaruh.

9. Creating and Building PR Army

PR juga berperan untuk melatih para manajer untuk menjadi komunikator yang baik sekaligus memiliki kemampuan untuk menganalisis keadaan.

Memang tidak mudah bagi PR untuk melalui berbagai rintangan dan menjawab tantangan ke depan.  Untuk itu, Steve menyerukan kepada seluruh praktisi PR agar mempersiapkan diri dan selalu relevan. (fer)