Menepis Mispersepsi tentang Digital PR

PRINDONESIA.CO | Kamis, 10/11/2022
Bima Marzuki, founder dan CEO Media Buffet, pada saat mengisi workshop JAMPIRO #8 di Surabaya
Dok. PR INDONESIA

Mispersepsi tentang digital PR dapat membuat PR semakin jauh untuk menjadi fungsi strategis manajemen. Mengapa demikian?

SURABAYA, PRINDONESIA.CO – Fokus public relations (PR) membangun reputasi dan citra organisasi kerap dianggap tidak berkorelasi terhadap pertumbuhan bisnis dan menaikkan penjualan. Padahal, menurut Bima Marzuki, founder dan CEO Media Buffet, pada saat mengisi workshop Digital PR bertema “Unboxing Digital PR” di acara Jambore PR INDONESIA (JAMPIRO) #8 di Surabaya, Rabu (9/11/2022), sebenarnya upaya itu bisa diukur dan dimaksimalkan dengan memanfaatkan keberadaan fungsi digital PR.

Namun, kata pria yang dulunya dikenal sebagai jurnalis televisi itu, kondisi yang terjadi saat ini, banyak orang yang mispersepsi tentang digital PR. Umumnya, digital PR kerap identik dengan upaya PR menyampaikan informasi melalui media sosial. Padahal, tidak sesederhana itu. Bima justru khawatir jika kesalahpahaman itu terus dibiarkan dapat mengakibatkan PR sulit untuk menjadi fungsi strategis di manajemen. 

Sebenarnya, makna dari digital PR adalah proses mengintegrasikan PR dengan marketing digital berbasis SEO untuk meningkatkan digital awareness, digital presence, dan digital reputation, lalu mengonversinya menjadi pertumbuhan (growth).

Perkembangan digital membuat mata uang PR terhadap kesadartahuan merek atau brand awareness mengalami pergeseran. Jika tahun ’90-an, mata uang PR terkait brand awareness dianggap sukses apabila berita atau informasi mengenai brand/organisasi tayang di media nasional dan televisi. Ketika memasuki tahun 2000-an, kinerja PR dianggap sukses apabila berita/informasi tentang organisasi tayang di media on-line. Saat ini, mata uang PR adalah apabila PR mampu memaksimalkan digital PR dan reputasi digital.

Bima melanjutkan, ada empat elemen digital PR. Terdiri dari SEO, audiens, konten, dan brand. Dengan kata lain, kemampuan PR menyinergikan empat elemen tersebut dengan cara menginformasikan tentang brand sesuai interest audiens yang disasar melalui konten dengan teknik SEO. Sedangkan tiga kunci elemen SEO meliputi on-page, off-page dan technical.

Untuk sampai pada titik ini, PR harus mengenal kekuatan brand/organisasinya dan mengenal target audiensnya. Sementara kondisi yang masih sering ditemui adalah PR umumnya hanya menguasai dan memahami tentang visi misi perusahaan atau profil pemimpinnya.

 

Berenang di Kolam yang Salah

Kondisi ini membuat PR kerap melakukan aktivitas komunikasi di “kolam” yang salah. “PR sibuk membuat rilis, sehari bisa lima kali. Traffic di website, sih, bagus. Tapi pertanyaannya, traffic itu datang dari mana dan datang untuk kepentingan apa?” katanya seraya bertanya.

Biasanya, setelah ditelusuri, hasilnya konten tersebut tidak ada relevansinya dengan produk dan audiens yang ingin disasar. Akhirnya, seperti penilaian banyak orang tadi, PR tidak berperan terhadap pertumbuhan bisnis. “Publik tahu tentang brand atau organisasi kita, tapi tidak dalam,” katanya. “Growth itu tidak mesti berkaitan dengan search dan traffic, tapi lebih kepada partisipasi. Partisipasi inilah yang mesti diciptakan oleh PR,” tutupnya.

Nah, untuk pembaca yang ingin mengenal lebih jauh tentang pembicara pada workshop kali ini dapat mengunjungi LinkedIn Bima Marzuki. (rtn)