Cara Membangun Hubungan yang Efektif dengan Media

PRINDONESIA.CO | Kamis, 13/07/2023
Rizka menekankan perlu adanya upaya dari PR agar dapat membangun hubungan yang efektif dengan rekan-rekan media.
Budi/PR INDONESIA

Ada beberapa aspek yang menentukan efektivitas PR dalam membangun hubungan dengan media. Apa saja?

BANDUNG, PRINDONESIA.CO -- Media menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas public relations (PR). Menurut akademisi dari LSPR Communication and Business Institute Rizka Septiana saat mengisi workshop PR Level Up #1 bertajuk “Basic PR Level: Understanding Public Relations” yang diselenggarakan oleh PR INDONESIA di Bandung, Kamis (15/6/2023), hal ini dkarenakan beberapa penyebab.

Salah satu penyebabnya adalah PR membutuhkan media untuk membangun, meningkatkan awareness, membuat pemahaman terhadap suatu isu, hingga mendapatkan publisitas terkait produk atau jasa. Sebaliknya, media memerlukan informasi terkini yang akurat, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada pembaca atau audiensnya.

Berkaitan dengan kondisi tersebut, Rizka menekankan perlu adanya upaya dari PR agar dapat membangun hubungan yang efektif dengan rekan-rekan media. Di hadapan para peserta workshop, Deputy Head of Media Relations LSPR Communication and Business Institute ini kemudian merangkum beberapa aspek yang harus dipenuhi oleh PR untuk dapat membangun hubungan yang efektif dengan media.

Aspek tersebut meliputi perlunya PR memahami media. Menurutnya, PR harus menjalin koneksi terlebih dahulu agar mampu memahami media. Selain itu, PR juga harus menentukan media yang menjadi sasaran hingga mengetahui tenggat waktu kerja yang dimiliki oleh media. Rizka juga menyarankan agar PR membatasi pengiriman siaran pers melalui e-mail. Sebaiknya, PR hanya mengirimkan siaran pers kepada media yang memiliki ketertarikan terhadap informasi yang ingin disampaikan.

Rizka juga menekankan pentingnya PR PR melatih kemampuan menulis. Serta, memberikan informasi yang memiliki nilai berita dan berguna bagi audiens/masyarakat. “Siaran pers yang hanya berisi promosi tidak akan diminati oleh rekan-rekan media,” katanya.

Ia juga mengimbau agar praktisi PR tidak menjalin hubungan dengan media kalau ada perlunya saja. Menurutnya, cara ini justru akan membuat PR semakin jauh untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan kredibilitas. “Cara PR membangun hubungan dengan media itu seperti seni,” katanya.

Perempuan yang juga merupakan Director of Membership ASEAN PR Network itu juga meminta agar PR jangan menghindar apabila mendapat panggilan telepon atau menerima pesan cepat dari media. Apalagi ketika mereka sedang berada dalam situasi krisis.

Tiga Strategi

Untuk itu, Rizka telah merangkum tiga strategi yang bisa dilakukan PR pada saat berhadapan dengan media. Pertama, bersikap ramah dan tanyakan keperluannya. “Buat situasi menjadi rileks,” ujarnya. Kedua, PR dapat menciptakan suasana seolah-olah berhenti. Maksudnya, dengan membawa jurnalis ke ruangan tertutup dan memintanya untuk menunggu. Upaya ini dilakukan dengan tujuan agar PR memiliki waktu untuk berpikir.

Ketiga, PR dapat memberikan pertanyaan layaknya jurnalis bertanya kepada narasumber dengan menggunakan metode 5W+1H (who, what, when, where, why, how). Contoh, PR dapat menanyakan tujuan wawancara, siapa yang ingin diwawancara, kapan berita atau informasi tersebut akan waktu tayang berita, jenis wawancara, tenggat beritanya, hingga nomor kontak jurnalis yang bersangkutan. (mfp)