Upaya UPN Veteran Jatim Pastikan Lulusan Ilmu Komunikasi Gampang Dapat Kerja

PRINDONESIA.CO | Senin, 13/04/2026
UPN “Veteran” Jawa Timur merespons stigma lulusan Ilmu Komunikasi sulit terserap dunia kerja melalui inovasi pembelajaran digital.
Dok. UPN Veteran Jatim

UPN “Veteran” Jawa Timur merespons stigma lulusan Ilmu Komunikasi sulit terserap dunia kerja melalui inovasi pembelajaran digital yang diterapkan pada mata kuliah Komunikasi Digital.

SURABAYA, PRINDONESIA.CO – Jurusan Ilmu Komunikasi masih jadi favorit para calon mahasiswa. Hal itu dapat dilihat dari tingginya angka penerimaan mahasiswa pada jurusan tersebut di banyak kampus, yang berbanding lurus dengan banyaknya lulusan bergelar Sarjana Ilmu Komunikasi. Hal itu kemudian berimbas pada ketatnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan. 

Ketatnya persaingan kerja para lulusan Ilmu Komunikasi di tengah dinamika bisnis hari ini diamini UPN Veteran Jawa Timur. Untuk itu, dosen sekaligus Kepala Laboratorium Integrated Digital UPN Veteran Jawa timur Irwan Dwi Arianto mengatakan, penting bagi mahasiswa untuk tidak hanya menguasai komunikasi konvensional. 

Irwan menerangkan, dalam konteks kekinian lulusan Ilmu Komunikasi perlu juga memiliki kemampuan membaca dinamika publik digital, memahami interaksi multiplatform, dan menafsirkan data secara strategis. “Itulah sebabnya inovasi pembelajaran harus bergerak ke arah yang lebih empiris, lebih analitis, dan lebih relevan dengan perubahan zaman,” ujarnya dikutip dari laman resmi UPN Veteran Jawa Timur, Sabtu (11/4/2026).

Menurut Irwan, tantangan pendidikan komunikasi saat ini bukan sekadar menyampaikan teori, tetapi menyiapkan mahasiswa agar mampu membaca realitas digital secara kritis dan berbasis bukti. Hal tersebut yang diupayakan UPN Veteran Jawa Timur lewat laboratorium yang Irwan pimpin dengan penekanan kepada penguatan kompetensi analisis data dan pemahaman ekosistem komunikasi digital yang relevan dengan kebutuhan industri.

Lewat pembelajaran tersebut, lanjut Irwan, mahasiswa diajak untuk membangun consciousness agar tidak terjebak sebagai pengguna pasif dalam era digital yang disruptif. Mahasiswa dituntut untuk memahami bahwa setiap unggahan, komentar, dan balasan di media sosial tidak pernah berdiri sendiri. Semua aktivitas itu membentuk jejak, relasi, dan konsekuensi sosial yang dapat dibaca secara ilmiah.

Kesadaran tersebut, tambah Irwan, sekaligus memperkuat digital literacy berbasis pengalaman dan pembuktian, karena mahasiswa belajar dari data yang mereka hasilkan sendiri dan bukan hanya dari definisi di ruang kelas.

Tentang Sulit Mendapat Kerja

Irwan menegaskan, anggapan bahwa lulusan Ilmu Komunikasi sulit bekerja perlu ditinjau ulang. “Persoalannya bukan pada disiplin ilmunya, melainkan pada apakah proses pembelajarannya mampu mengikuti perubahan zaman,” kata dia. 

Menurutnya, melalui pendekatan berbasis komputasi komunikasi dan analisis digital, mahasiswa akan terlatih berpikir seperti analis data untuk membaca percakapan publik secara terukur. Pendekatan ini sekaligus menggeser praktik komunikasi yang sebelumnya lebih bertumpu pada intuisi.

Secara garis besar, tutup Irwan, UPN Veteran Jawa Timur percaya bahwa inovasi pembelajaran merupakan bagian dari komitmen menghadirkan pendidikan yang adaptif dan berdampak, sekaligus membuktikan bahwa bidang Ilmu Komunikasi memiliki posisi strategis di tengah transformasi digital dan kebutuhan dunia kerja saat ini. (Fadhil Pramudya)