UIN Walisongo Semarang Dorong Mahasiswa Bangun Reputasi Lewat “Personal Branding”

PRINDONESIA.CO | Kamis, 07/05/2026
UIN Walisongo Semarang mendorong mahasiswa memperkuat kompetensi melalui personal branding sebagai bekal membangun kepercayaan dan citra profesional di era komunikasi digital.
Dok. UIN Walisongo Semarang

UIN Walisongo Semarang mendorong mahasiswa memperkuat kompetensi melalui personal branding sebagai bekal membangun kepercayaan dan citra profesional di era komunikasi digital.

SEMARANG, PRINDONESIA.CO – Penguatan kapasitas mahasiswa tidak lagi hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada kemampuan membangun citra diri yang kredibel. Hal ini tercermin dalam kegiatan pengembangan personal branding yang digelar oleh Walisongo Public Relations Community (WPRC) bertajuk Bangun Citra, Sampaikan Pesan: Sinergi Personal Branding dan Komunikasi Publik, di Teater Planetarium, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Selasa (5/5/2026).

Ketua WPRC Ahmad Abiyyah Idzihar menekankan, pelaksanaan event yang menghadirkan sejumlah praktisi komunikasi tersebut bertujuan untuk mengingatkan mahasiswa akan pentingnya pemahaman etika komunikasi agar tidak melakukan kesalahan fatal atau blunder di ruang publik.

Adapun dalam kegiatan tersebut, Corporate Communication Specialist Perum Perhutani Jawa Tengah Tantida Isa menjelaskan bahwa personal branding bukan sekadar soal tampil di ruang publik, melainkan bagaimana individu mampu menunjukkan nilai dan kepercayaan. “Personal branding bukan tentang sekadar terlihat, tapi tentang memberikan alasan agar orang lain percaya,” ujarnya dikutip dari RRI, Rabu (6/5/2026).

Tantida mengatakan, perubahan lanskap komunikasi turut menuntut individu memiliki nilai yang jelas dan relevan alih-alih hanya sekadar aktif tampil. “Sekarang bukan masanya sekadar tampil, tapi masanya menjadi bernilai,” tutur dia.

Respons Dinamika Komunikasi Publik

Tak hanya sekadar mendorong personal branding, kegiatan ini juga menyoroti perubahan peran komunikasi dan kehumasan yang makin dinamis. Pembina WPRC sekaligus Sekretaris Jurusan Alifa Nur Fitri dalam sambutannya mengingatkan, praktisi public relations (PR) dituntut untuk lebih responsif dalam memahami kebutuhan publik yang bergerak cepat.

Ia menyebut, jika praktisi PR tidak menyampaikan informasinya sendiri, maka publik justru berpotensi membangun narasi secara liar. “PR saat ini bukan hanya sekadar penyampai informasi, tetapi merupakan arsitek persepsi dan penjaga reputasi institusi," ucap Alifa.

Senada dengan itu, Sekretaris PPID Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah Bagus Adi Raharjo menyoroti terkait pergeseran paradigma media sosial dari monolog menjadi dialog. Bagus menekankan bahwa saat ini publik lebih aktif mencari dan mendapat informasi dari dunia digital. "Humas saat ini dituntut 'gercep' untuk memahami dinamika dalam menangani pelanggan karena publik seringkali lebih dulu tahu informasi," tuturnya. (Fadhil Pramudya)