Tantangan profesi komunikasi di tengah krisis hingga kebutuhan adaptasi di era digital menjadi sorotan dalam rangkaian talkshow dan pelantikan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Provinsi Riau.
PEKANBARU, PRINDONESIA.CO - Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Provinsi Riau periode 2026-2029 resmi dilantik di Gedung Rektorat Universitas Riau, Kamis (16/4/2026). Dalam kegiatan itu, Welly Wirman resmi mengemban amanah sebagai Ketua ISKI Riau hingga tiga tahun mendatang.
Momentum pelantikan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat peran organisasi profesi dalam mendorong pengembangan ilmu dan praktik komunikasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Dalam sambutannya, Welly menegaskan, kepercayaan yang diberikan kepadanya menjadi tanggung jawab besar untuk mendorong kemajuan organisasi di tingkat daerah. Ia menegaskan komitmennya dalam memperkuat posisi ISKI sebagai wadah profesional yang mampu memberikan kontribusi nyata di bidang komunikasi.
Ia pun mengaku siap menjalankan program kerja yang berorientasi pada peningkatan kapasitas anggota serta penguatan peran ISKI dalam mendukung komunikasi publik yang berkualitas. “Kami juga akan membangun sinergi dengan pemerintah dan berbagai pihak guna mendorong kemajuan daerah,” ujarnya dikutip dari laman Media Center Riau, Jumat (17/4/2026).
Welly juga menegaskan komitmennya menjadikan ISKI sebagai ruang kolaborasi yang inklusif. Dalam konteks ini, ia berharap agar ISKI mampu menjembatani sinergi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem komunikasi yang sehat, kritis, dan konstruktif.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Diskominfotik Provinsi Riau Supriyadi menyampaikan, sarjana komunikasi memegang peran vital dalam mendukung penyampaian informasi publik yang efektif dan bertanggung jawab.
Supriyadi pun menilai bahwa keberadaan ISKI dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun komunikasi yang transparan dan terpercaya. “Peran ini juga penting dalam menghadapi tantangan arus informasi di era digital,” tutur dia.
Sorot Tantangan Komunikasi di Era Krisis
Perubahan lanskap komunikasi yang kian dinamis turut menyorot perhatian dalam rangkaian acara pelantikan tersebut. Profesi komunikasi dihadapkan pada tantangan di saat situasi tidak terkendali dan informasi belum sepenuhnya tersedia. Isu itu kemudian dibahas dalam talkshow bertajuk “Masa Depan Profesi Komunikasi” yang digelar bersamaan dengan pelantikan pengurus ISKI Riau.
Dalam talkshow tersebut, Media Relation Officer EMP Bentu Limited M. Hanshardi menekankan, praktik komunikasi di lapangan kerap dihadapkan pada situasi yang jauh dari ideal. Ia menilai tekanan justru muncul ketika informasi belum sepenuhnya tersedia, sementara opini publik sudah lebih dulu terbentuk. “Saya belajar satu hal di lapangan: komunikasi itu tidak diuji saat kondisi normal, tetapi justru saat situasi mulai tidak terkendali,” kata dia dikutip dari Bertuahpos.
Dalam situasi krisis, sambungnya, kecepatan arus informasi menjadi faktor utama yang memengaruhi persepsi publik. Informasi yang lebih dulu beredar cenderung lebih cepat dipercaya, meskipun belum tentu utuh. “Di lapangan, kita sering menghadapi situasi ketika informasi belum lengkap, tetapi publik sudah memiliki kesimpulan,” ucapnya.
Untuk itu, ia berpandangan bahwa praktisi komunikasi memegang peran strategis karena harus menjembatani berbagai kepentingan, mulai dari perusahaan, publik, media, hingga pemerintah. Dengan peran yang diemban itu, penyampaian informasi dituntut tetap akurat dan tidak menyesatkan. “Tidak harus lengkap di awal, tetapi harus benar dan tidak menyesatkan,” tegasnya.
Dalam sesi diskusi, peserta juga menyoroti peluang lulusan Ilmu Komunikasi berkarier di dunia industri. Menanggapi hal tersebut, Hanshardi menyebut bahwa Ilmu Komunikasi sebagai bidang yang fleksibel dan adaptif di berbagai sektor.
Menurutnya, jurusan Ilmu Komunikasi merupakan jurusan yang bisa masuk ke banyak bidang, mulai dari public relations (PR) atau humas, corporate secretary, pengadaan barang dan jasa, human capital, hingga perizinan dan administrasi formal.
Untuk dapat beradaptasi, kata dia, lulusan Ilmu Komunikasi perlu dibekali kemampuan teknis maupun nonteknis, seperti menulis, videografi, kemampuan memengaruhi, hingga manajemen kegiatan. “Di dunia kerja, komunikasi bukan soal paling pintar bicara, tetapi siapa yang paling mampu menjaga kepercayaan dalam situasi sulit,” pungkasnya. (Fadhil Pramudya)
- BERITA TERKAIT
- Kepengurusan Baru ISKI Riau Soroti Peran Strategis Bidang Komunikasi
- Saatnya Komunikasi Internal Beralih ke Pengukuran Dampak
- Akademisi Sebut Gaya Komunikasi Pemimpin Jadi Penentu Utama Kepercayaan Publik
- 3 Pilar Strategi Komunikasi Modern untuk Pertumbuhan Merek di Era AI
- 3 Hal yang Perlu Diperhatikan Demi Jaga Persepsi Publik di Era “AI Mode”