Hestining Kurniastuti, Kepala Humas & Protokol UGM: Menjembatani Kepercayaan

PRINDONESIA.CO | Kamis, 28/05/2026
Hestining Kurniastuti, Kepala Humas & Protokol UGM
Dok. Pribadi

Bagi Hestining Kurniastuti, dunia kehumasan bukan sekadar urusan membagikan informasi ke ruang publik. Lebih dari itu, hubungan masyarakat adalah seni mendengarkan, memahami, dan membangun jembatan kepercayaan yang kokoh antara institusi pendidikan tinggi dengan masyarakat luas.

YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO — Perjalanan karier Hestining Kurniastuti di dunia pendidikan tinggi seakan dibentuk oleh rangkaian pengalaman multidimensi. Lulus dari Program Studi Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2004, ia mengawali langkahnya mengajar di sebuah preschool bilingual. Di sanalah ia pertama kali menyerap pelajaran berharga tentang komunikasi lintas budaya serta pentingnya memberikan layanan terbaik dalam dunia pendidikan.

Setahun berselang, garis takdir membawanya kembali ke almamaternya. Pada tahun 2005, perempuan yang akrab disapa Nia ini bergabung sebagai staf di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM yang saat itu tengah merintis International Undergraduate Program. Berdiri di garda depan program baru, ia ditempa oleh berbagai tugas multitasking mulai dari admisi, promosi, urusan internasional, akademik, hingga keuangan. Pengalaman dinamis inilah yang memperkaya kompetensinya dalam tata kelola pendidikan tinggi hingga kelas internasional tersebut berkembang pesat dan menjadi salah satu pilihan favorit di UGM saat ini.

Kepada HUMAS INDONESIA, Jumat (22/8/2025), Nia menjelaskan, momentum penting dalam karier komunikasinya terjadi pada tahun 2015, saat ia resmi bergabung di bagian Humas dan Protokol UGM sebagai Kepala Subbagian Layanan Informasi. “Perpindahan ini menjadi ruang bagi saya untuk mengembangkan keterampilan komunikasi publik, publikasi, serta membangun jejaring di tingkat universitas yang lebih luas,” kenangnya.

Masuk ambil bagian di kehumasan UGM, kontribusi Nia nyata terdengar. Ia ikut mengawal keikutsertaan UGM dalam pemeringkatan Keterbukaan Informasi Publik oleh Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia (KIP RI), merapikan layanan informasi di laman utama UGM, hingga memperkuat pilar inklusivitas kampus.

Nia juga terlibat aktif dalam Pokja Layanan Disabilitas (cikal bakal Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM) serta Tim Unit Layanan Terpadu-Khusus yang menangani pencegahan kekerasan seksual, sebelum Tim Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKAS) hadir. Kini, dedikasinya berbuah amanah baru sebagai Ketua Tim Kerja Humas yang berkoordinasi langsung di bawah Sekretaris Universitas.

Menurut pemenang Kartini HUMAS INDONESIA (KaHI) 2025 ini, dunia humas tidak pernah lepas dari dinamika krisis yang bisa datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Oleh karena itu, baginya, menghadapi krisis adalah ujian sekaligus ruang belajar terbaik untuk membentuk mental yang tangguh, adaptif, dan solutif. “Krisis mengajarkan saya untuk berpikir cepat tetapi tetap hati-hati, tidak reaktif, berkomunikasi dengan jujur dan jelas, serta memastikan koordinasi tim tetap solid,” ungkap Nia.

Lebih jauh Nia berpandangan, respons institusi dalam melewati masa-masa krisis justru bisa menjadi momentum emas untuk merebut kembali dan memperkuat kepercayaan publik. Namun, selaras dengan itu, katanya, perlu ada tiga kompetensi wajib bagi praktisi humas. Di antaranya komunikasi yang jelas dan penuh empati, literasi digital, serta ketajaman manajemen krisis. "Kecerdasan buatan (artificial iIntelligence/AI) mungkin bisa menjawab pertanyaan dengan cepat, tetapi AI tidak memiliki empati, emosi, dan kemampuan membangun rasa percaya," tegasnya.

Kekuatan Feminitas dan Pondasi Hidup

Sebagai seorang praktisi humas perempuan, Nia melihat bahwa karakteristik unik seperti kepekaan, empati, ketelitian, dan kemampuan multitasking adalah modal besar. Dengan empati, ia mampu mendengarkan kebutuhan pemangku kepentingan secara mendalam sebelum merumuskan solusi komunikasi yang tepat.

Keseimbangan hidup pun menjadi kunci bagi ibu dua anak ini. Di tengah kesibukan mengelola informasi kampus yang kerap menyita waktu di luar jam kerja atau hari libur, dukungan penuh dari suami dan anak-anak menjadi energi utamanya. Untuk menjaga kesehatan mental dan fisiknya, Nia selalu menerapkan prinsip first thing first melalui pengaturan prioritas yang matang, serta menyempatkan diri untuk berolahraga.

Menariknya, kecintaan Nia pada olahraga sudah mengakar sejak kecil melalui bola voli. Bukan sekadar hobi, Nia adalah mantan atlet voli berprestasi yang pernah berlaga di kejuaraan daerah, nasional, Liga Bola Voli, Proliga, hingga sempat dipanggil mengikuti Pelatnas Sea Games semasa kuliah S1. Saat me-time, ia kerap memilih beristirahat, memasak hidangan favorit, atau sekadar menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.

Semua ketulusan, etos kerja keras, dan sikap rendah hati yang ia miliki hari ini diakui lahir dari inspirasi kedua orang tuanya. Di samping itu ia juga mengaku bahwa lingkungan kerja mulai dari rekan tim, mentor, hingga atasan, selalu menjadi sumber inspirasi harian yang bermakna baginya. Tak heran jika Nia peraih Bronze Winner Kategori Insan Humas Terpopuler dalam Anugerah Humas Diktisaintek 2025 dan Ketua Tim Pemenang Hibah Program Resona Saintek, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dengan tema Riset Kuat Pangan Hebat 2025.

Dengan memegang teguh prinsip hidup "Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin", Nia menyimpan mimpi besar untuk masa depannya. Ia ingin terus bergerak mengoptimalkan sumber daya di sekitarnya serta memberdayakan masyarakat demi kesejahteraan bersama.

Kepada rekan-rekan perempuan yang ingin meniti karier di belantara kehumasan, Nia menitipkan sebuah pesan penuh optimisme. “Niatkan untuk kebaikan dan yakinlah setiap kontribusi kita akan berdampak positif bagi masyarakat. Terus percaya diri, tak lelah untuk belajar, dan ciptakan positive vibes di mana pun kalian berada,” pungkasnya. (Arfrian R.)