HOME » EVENT » AWARDS

Penjurian PRIWOLA 2026: Komunikasi Sebagai Jangkar Reputasi

PRINDONESIA.CO | Senin, 07/09/2026
Sesi penjurian PRIWOLA 2026, Jum’at (5/9/2026).
doc/PRINDONESIA

Dua perspektif dalam penjurian PRIWOLA 2026 memperlihatkan beragam cara para pemimpin perempuan dalam menghadirkan komunikasi yang bermakna dan berdampak kepada masyarakat.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Di tangan pemimpin yang mampu membaca perubahan, komunikasi dapat menjadi jangkar untuk menjaga reputasi, membangun kepercayaan, sekaligus menggerakkan manusia di dalam organisasi. Hal tersebut coba dieksplorasi majalah PR INDONESIA dengan menggelar PR INDONESIA Women Communication Leader Awards (PRIWOLA) 2026, sebuah ajang yang dikhususkan bagi para perempuan pemimpin komunikasi di organisasi masing-masing.

Dalam penjurian sesi presentasi pada Jumat (5/9/2026), para peserta saling unjuk bagaimana komunikasi yang mereka pimpin dapat membangun reputasi, menumbuhkan kepercayaan, serta menghadirkan dampak nyata bagi organisasi maupun masyarakat. Salah satu perspektif tersebut datang dari General Manager Corporate Communication PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) Khairani,yang mengusung gagasan kepemimpinan sebagai jangkar di tengah transformasi.

Selama sembilan tahun berkarier di GMF, Khairani menerangkan kepada dewan juri, dirinya telah melihat perjalanan perusahaan yang turut membentuk cara ia memimpin tim dan menjalankan komunikasi. “GMF membentuk saya sebagai pemimpin. Saya ikut membentuk cara GMF berkomunikasi,” ujarnya.

Perjalanan itu tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Khairani mengenang, ketika pertama kali dipercaya sebagai senior manager, ia harus menghadapi turbulensi hebat akibat pandemi COVID-19. Tantangan tersebut semakin kompleks ketika struktur tim yang dipimpinnya ikut berubah. Dari tujuh orang, satu per satu anggota tim mengundurkan diri hingga tersisa tiga orang. Dalam situasi tersebut, ia tidak hanya dituntut mempertahankan fungsi komunikasi, tetapi juga membangun kembali fondasi kepemimpinan dan tim.

Tantangan lain datang dari cara komunikasi dipersepsikan di dalam organisasi. Fungsi komunikasi internal belum sepenuhnya dipandang sebagai posisi strategis, sementara komunikasi eksternal masih kerap dimaknai secara sempit. Kondisi itu justru menjadi ruang bagi Khairani untuk mentransformasi cara GMF memaknai komunikasi. “Sayamemperkenalkan prinsip audience before applause, human before corporate, story before statement, dan impact before self-congratulations,” ucapnya.

Menurutnya, komunikasi bukan sekadar menyampaikan sisi positif perusahaan, melainkan menjawab alasan mengapa keberadaan organisasi berarti bagi publik. Di bawah kepemimpinannya, Khairani menjelaskan, Instagram GMF tumbuh dari sekitar 63 ribu menjadi 90 ribu pengikut, sedangkan LinkedIn meningkat dari 35 ribu menjadi 62 ribu pengikut. Sementara dari sisi SDM, tim yang semula hanya beranggotakan tiga orang berkembang menjadi enam orang. Sejumlah anggota tim bahkan berhasil naik ke level eksekutif dan meraih penghargaan Most Valuable Player (MVP). “Kepemimpinan itu akan digantikan. Kita harus melihat manusia secara proporsional, memberi ruang untuk gagal tanpa menormalisasi kegagalan dan tanpa memanjakan. Keberhasilan pemimpin terlihat ketika tim mampu naik level dan berdiri tanpa harus bergantung kepadanya,” jelasnya.

Dalam sesi tanya jawab, founder dan CEO PR INDONESIA Asmono Wikan menggali lebih jauh pengalaman Khairani dalam menghadapi konflik batin sebagai seorang pemimpin sekaligus pengelola komunikasi. Di sini, Khairani menekankan pentingnya membangun hubungan yang inklusif dengan seluruh karyawan tanpa menghilangkan batas profesional sebagai garda komunikasi perusahaan. “Tim komunikasi perlu membiasakan diri untuk mendengar berbagai dinamika, baik dari karyawan maupun manajemen. Namun, kedekatan tersebut tetap harus diimbangi dengan kemampuan memilah informasi dan menentukan apa yang perlu disampaikan kepada publik,” tegasnya.

Pendekatan “Science-based communication”

Sementara itu, Direktur Utama Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika (LPPOM)  Muti Arintawati yang telah bergabung di institusi tersebut sejak 1991 dan dipercaya sebagai direktur utama sejak 2001, menegaskan pentingnya komunikasi bagi institusi yang terikat oleh perubahan kebijakan dan dinamika ekosistem halal di berbagai negara.

Guna mentransformasikan komunikasi institusi, Muti merumuskan visi building trust and creating impact. Dalam perspektif ini, komunikasi ditempatkan sebagai kekuatan strategis untuk membangun kepercayaan, menggerakkan kolaborasi, dan menciptakan dampak bagi ekosistem halal di Indonesia. “Reputasi tidak dapat dibangun secara instan. Reputasi adalah aset strategis yang harus terus dirawat melalui keselarasan antara apa yang dilakukan, dikatakan, dan dirasakan oleh para pemangku kepentingan,” ujarnya menggarisbawahi muara dari visi tersebut.

Muti juga menekankan, di bawah kepemimpinannya, reputasidibangun melalui kompetensi, independensi, integritas, kualitas layanan, serta inovasi. Hal itu kemudian didukung oleh pendekatan science-based communication, yakni menyampaikan isu halal dengan basis sains, standar, data, dan perspektif kehalalan dalam bahasa yang lebih mudah diakses publik.

Penjelasan Muti memantik pertanyaan dari juri Asmono tentang bagaimana komunikasi ditempatkan sebagai fungsi strategis ketika kebijakan membuat LPPOM berada dalam sorotan publik. Menanggapi hal tersebut, Muti mengatakan, pengalaman panjang menunjukkan bahwa berbagai persoalan dapat dikelola melalui komunikasi yang tepat. “Ketika menghadapi isu yang berpotensi memicu krisis, LPPOM menggunakan pendekatan science-based dan data-baseddengan memberikan penjelasan yang jelas serta melibatkan pihak ketiga yang kredibel yang ampuh membantu publik memahami persoalan secara lebih utuh sekaligus menjaga kepercayaan terhadap lembaga,” pungkasnya.  (Evira Anyelia)