Dari pengalaman Eva dan Khairani membuktikan bahwa komunikasi dari dalam mampu memperkokoh fondasi kepercayaan sekaligus membangun pemahaman ke luar.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Memimpin komunikasi di tengah organisasi yang kompleks membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menyampaikan pesan. Diperlukan juga kepekaan membaca situasi, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan membangun pemahaman dengan beragam pemangku kepentingan. Hal ini ditegaskan oleh sejumlah peserta dalam penjurian PR INDONESIA Women Communication Leader Awards (PRIWOLA) 2026, Jumat (4/9/2026).
General Manager (GM) Corporate PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Eva Chairunisa, misalnya, mengatakan, dalam konteks perusahaan ini, komunikasi yang dijalankan agaknya lebih kompleks mengingat struktur kepemilikan perusahaan terdiri atas 60 persen konsorsium BUMN Indonesia, dan 40 persen sisanya dimiliki konsorsium Tiongkok. “Sebagai proyek strategis dengan nilai investasi dan pinjaman yang besar, setiap isu terkait konstruksi maupun operasional dapat berdampak luas kepada masyarakat dan pemangku kepentingan, bahkan berpotensi menyentuh hubungan kerja sama Indonesia dan Tiongkok,” ujarnya.
Untuk itu, terang Eva, komunikasi yang dijalankan tidak bisa hanya berhenti pada bagaimana informasi disampaikan kepada publik. Sebelum sebuah informasi resmi dikeluarkan, pihaknya terlebih dahulu membangun pemahaman dengan sejumlah stakeholder. Pendekatan informal juga dilakukan untuk menjelaskan kebijakan perusahaan sebelum informasi tersebut disampaikan secara resmi kepada publik.
Sekaligus menjawab pertanyaan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Penelitian LSPR Janette Maria Pinariya yang duduk di bangku juri tentang cara menyeimbangkan komunikasi kepada stakeholder, Eva menyampaikan, kuncinya terletak pada kemampuan membaca situasi dan membangun komunikasi secara bertahap. “Data menjadi fondasi penting dalam menyeimbangkan komunikasi kepada stakeholder terutama terkait isu atau kebijakan yang diambil. Kami perlu memberikan informasi kepada stakeholder, tetapi harus tetap balance agar tidak menimbulkan sensitivitas dan tetap mendapatkan dukungan dari mereka,” jawabnya.
Tantangan Internal
Tantangan komunikasi internal yang tak kalah kompleks juga dihadapi PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF). Dijelaskan oleh General Manager Corporate Communication GMF Khairani, perusahaan ini memiliki lebih dari 5.000 karyawan, termasuk tenaga ahli daya dan pihak ketiga, yang tersebar di lebih dari 20 outstation. Kepada seluruh karyawan tersebut, GMF harus bisa memastikan mereka memperoleh informasi yang benar langsung dari perusahaan demi mengantisipasi rumor.
Selain itu, kata Khairani, perusahaan juga menghadapi tantangan yang dipicu oleh fenomena global berupa kelangkaan teknisi pesawat yang mendorong perusahaan MRO (maintenance, repair and operations) di berbagai negara melakukan rekrutmen secara agresif. “Kondisi itu turut membuat sebagian karyawan GMF tergiur untuk bekerja di luar negeri dengan tawaran yang lebih baik,” katanya.
Untuk menghadapi itu semua, lanjut Khairani, komunikasi tidak dapat bekerja hanya dengan mengandalkan kekuatan copywriting. Fungsi komunikasi perlu memahami dinamika organisasi dan menjaga agar gejolak tidak semakin besar. “Jika sebelumnya town hall digelar secara rutin setiap bulan, GMF kemudian mengubahnya menjadi forum berbasis isu agar lebih relevan dan tidak terasa repetitif. Direksi juga didorong untuk hadir dan berdialog langsung dengan pekerja, bahkan dalam sesi yang berlangsung hingga dua jam, terutama dengan pekerja di lini produksi,” ucapnya mengenai upaya yang dilakukan perusahaan.
Upaya membangun kebanggaan karyawan juga dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif. Salah satu contohnya GMF mengaransemen ulang Mars GMF serta memperkenalkan jingle “Kita GMF Banggakan Bangsa” yang dinyanyikan oleh komisaris. Program Face of the Week juga dihadirkan untuk mengapresiasi karyawan terbaik. “Cita-cita kami, karyawan bukan hanya penerima informasi, tetapi menjadi mitra reputasi dan penjaga reputasi,” ujarnya.
Hal tersebut memantik pertanyaan dari Strategic Business Director HUMAS INDONESIA Ainul Yaqin yang duduk sebagai dewan juri tentang pengukuran employee engagement survey. Menjawab hal tersebut, Khairani menjelaskan, ia bersama timnya menjalankan kolaborasi dengan Human Capital untuk melakukan employee engagement survey. Hasil survei tidak hanya menjadi bahan evaluasi, tetapi juga membuka perspektif baru bahwa persoalan komunikasi yang muncul di lingkup operasional justru dapat menjadi peluang untuk memperkuat peran komunikasi,” tandasnya. (Evira Anyelia)
- BERITA TERKAIT
- Penjurian PRIWOLA 2026: Mengawal Kepercayaan dan Memberdayakan Internal
- Penjurian PRIWOLA 2026: Menjaga “Stakeholder” Demi Reputasi
- Penjurian PRIWOLA 2026: Memimpin Perubahan dengan Komunikasi
- Penjurian PRIWOLA 2026: Komunikasi Sebagai Jangkar Reputasi
- Penjurian AHI 2026: Tiga Institusi Perkuat Layanan Publik Inklusif