HOME » EVENT » AWARDS

Penjurian PRIWOLA 2026: Mengawal Kepercayaan dan Memberdayakan Internal

PRINDONESIA.CO | Selasa, 08/09/2026
Sesi penjurian PRIWOLA 2026, Jumat (4/9/2026).
doc/PR INDONESIA

Gagasan dan pengalaman dari kedua peserta PRIWOLA 2026 ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan komunikasi dapat tumbuh dari konteks yang berbeda. Monica membangun kepercayaan melalui dialog, empati dan kolaborasi, sedangkan Heni memberdayakan mahasiswa sebagai bagian dari kekuatan komunikasi institusi.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Peserta PR INDONESIA Women Communication Leader Awards (PRIWOLA) 2026 dalam sesi penjurian yang berlangsung pada Jumat (4/9/2026), lebih banyak memaparkan gagasan kepemimpinan masing-masing lewat entri leadership. Termasuk di antara mereka adalah Senior Public Relations (PR) SPS Corporate Monica Gracia, dan Koordinator Humas Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Heni Indrayani.

Monica lewat paparan bertajuk “Insting Perempuan Mengawal Kepercayaan”, menjelaskan bahwa kepemimpinan komunikasi tidak berhenti pada aktivitas membagikan publikasi. Terlebih posisinya sebagai PR perempuan satu-satunya di perusahaan memainkan peran sentral dalam mengawal kepercayaan publik yang belum sepenuhnya stabil.

Ia menjelaskan, pada tahun 2026, terdapat 27 perusahaan yang berada di bawah naungan SPS. Kompleksitas tersebut membuat pengelolaan narasi korporasi membutuhkan standar transparansi dan kecepatan yang tinggi. “Saya memaknai posisi tunggal di fungsi komunikasi sebagai arsitek yang menjembatani kepentingan perusahaan dengan stakeholder sekaligus memitigasi berbagai risiko reputasi,” ujarnya.

Adaupun dalam implementasi komunikasi, Monica membangun pendekatan komunikasi yang proaktif, empatik dan kolaboratif. Salah satunya melalui kolaborasi pentahelix yang mempertemukan perusahaan dengan berbagai unsur stakeholder melalui dialog, storytelling dan literasi digital agar dapat mendekatkan perusahaan dengan masyarakat sekaligus membangun pemahaman yang lebih baik.

Di bawah kepemimpinannya, Monica juga menginisiasi pendekatan Creating Shared Value melalui tiga pilar, yakni pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan. Melalui semangat “Growth People, Bring Future”, program tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai bersama antara perusahaan dan masyarakat. “Upaya tersebut kemudian memberikan dampak terhadap hubungan perusahaan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Pendekatan komunikasi dan pemberdayaan yang dilakukan turut mendukung terciptanya kondisi zero conflict di wilayah operasional perusahaan,” imbuhnya.

Sebagai praktisi komunikasi, Monica menilai legacy yang akan ia wariskan tidak semata-mata berbentuk program yang pernah dijalankan, tetapi bagaimana fungsi komunikasi dapat terus dipercaya untuk memberikan dampak sekaligus membantu perusahaan memitigasi berbagai risiko di sektor yang digeluti. “Dukungan pemilik perusahaan terhadap gagasan komunikasi menjadi salah satu bentuk kepercayaan yang ingin terus dibangun sebagai legacy. Ketika perusahaan memberikan ruang bagi fungsi PR untuk menghadirkan dampak yang lebih luas, di situlah komunikasi dapat meninggalkan legacy yang berkelanjutan,” jelasnya menjawab Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Penelitian LSPR Janette Maria Pinariya yang duduk di bangku juri.

Memberdayakan “Student Advocacy”

Gagasan berbeda mengenai kepemimpinan komunikasi datang dari Koordinator Humas Fakultas Ilmu Komputer Udinus Heni Indrayani. Berada di lingkungan pendidikan yang lekat dengan teknologi dan dunia kreatif, Heni melihat komunikasi sebagai tantangan sekaligus peluang untuk memperkenalkan inovasi dan pengetahuan kepada publik dengan cara yang lebih dekat.

Fakultas Ilmu Komputer Udinus sendiri memiliki daya tarik yang kuat dengan jenjang pendidikan yang mencakup D3 hingga S3. Kondisi itu mendorong Heni dan timnya untuk membangun fungsi humas yang lebih dekat dengan stakeholder, khususnya pada mahasiswa, orang tua, dan alumni. “Humas perlu membangun narasi mengenai inovasi dan pengetahuan yang dihasilkan agar dapat dipahami sekaligus memberikan dampak,” katanya.

Transformasi yang telah dilakukan Heni terlihat dari optimalisasi channel komunikasi. Dari kondisi media sosial yang sebelumnya belum terkelola secara optimal dengan sekitar 2.000 pengikut, Heni bersama tim berhasil mengembangkannya hingga mencapai sekitar 400 ribu pengikut.

Namun, pertumbuhan jumlah pengikut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Heni juga berupaya membangun interaksi yang lebih dekat dengan audiens. Salah satu strategi yang diterapkan adalah memberdayakan mahasiswa melalui pendekatan student advocacy.

Heni menjelaskan, lewat pendekatan tersebut, mahasiswa tidak lagi hanya menjadi objek komunikasi, tetapi dilibatkan sebagai perpanjangan tangan humas sekaligus bagian dari strategi komunikasi eksternal. “Mereka dibekali kemampuan untuk mengemas pengalaman selama berkuliah menjadi cerita yang relevan, kemudian diamplifikasi melalui kanal komunikasi fakultas maupun publikasi media,” jelasnya.

Pendekatan tersebut kemudian memantik pertanyaan Strategic Business Director HUMAS INDONESIA Ainul Yaqin mengenai identitas yang ingin dibangun Udinus di mata publik. Ia menggali tiga kata yang paling merepresentasikan Udinus sekaligus pembeda yang dimiliki institusi tersebut. Menurut Heni, teknologi, entrepreneurship, dan polke (jempol dan oke) menjadi tiga kekuatan yang terus dikembangkan Udinus. Ketiganya tidak hanya menjadi bagian dari narasi komunikasi, tetapi juga diterapkan dalam kurikulum dan pengembangan pendidikan.

Lebih lanjut, di setiap pengembangannya, semangat teknologi dan entrepreneurship, tandas Heni, tetap menjadi bagian penting yang ingin ditanamkan kepada mahasiswa. “Kami tidak hanya membekali mahasiswa untuk mengadopsi teknologi, tetapi juga membuat teknologi,” jawabnya penuh semangat. (Evira Anyelia)