Mengelola Reputasi di Masa Pandemi: Agar “Brand” Tetap Diminati

PRINDONESIA.CO | Rabu, 03/06/2020 | 3.070
Publik kini cenderung lebih terikat secara emosional saat memilih merek.
Dok. Pribadi

Merek yang tidak bertindak apa-apa di masa Pandemi Covid-19, kepercayaannya terancam di mata konsumen. Perusahaan yang hanya mementingkan profit di masa krisis pun bakal bernasib sama.

 

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Itulah inti sari hasil survei global yang dibesut Edelman Trust Barometer 2020 Special Report: Brand Trust and the Coronavirus Pandemic yang dilakukan oleh Daniel J. Edelman Holdings. Survei dilakukan kepada 12 ribu responden dari 12 negara. Periode survei dilakukan dari tanggal 23 – 26 Maret 2020.  

Survei menunjukkan, 33 persen responden memilih berhenti menggunakan merek tertentu karena merek tersebut tidak melakukan tindakan yang tepat selama pandemi Covid-19. Sementara 71 persen responden akan kehilangan kepercayaan selamanya terhadap brand/perusahaan yang menempatkan profit di urutan pertama saat periode sulit ini.

Indonesia memang tidak masuk dari 12 negara yang disurvei. Namun, berdasarkan hasil studi terdahulu, karakter responden Indonesia memiliki kecenderungan yang sama dengan Cina dan India. Dan apakah Anda tahu, dari survei tersebut, Cina dan India memiliki persentase tertinggi, masing-masing 76 persen dan 60 persen responden, yang memilih berhenti menggunakan merek jika merek tersebut tidak melakukan tindakan yang tepat pada saat pandemi.

Mengapa demikian? Menurut Tantri Kadiman Beekelaar, Head of Corporate and Public Affairs Edelman Indonesia, pandemi telah mengubah cara konsumen dalam memilih brand yang mereka gunakan selama ini. Publik kini cenderung lebih terikat secara emosional saat memilih merek.