Membangun “Newsincorp” Perlu Kolaborasi

PRINDONESIA.CO | Rabu, 10/02/2021
Kolaborasi menciptakan newsincorp
Dok. Istimewa

Disrupsi telah mengubah sebagian besar sisi perencanaan perusahaan. Pendapatan iklan dan sirkulasi tak lagi cukup untuk menghidupi media. Semua pihak di dalam tubuh media harus terlibat dalam kolaborasi.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Inilah yang disampaikan oleh  Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Tri Agung Kristanto pada web seminar “Jurnalisme Berkualitas: Menguatkan Keberlanjutan Wartawan dan Penerbitan Pers Guna Menyehatkan Demokrasi di Tengah Gempuran Disrupsi Digital”, Minggu (7/2/2021).

Tri mengatakan, selama ini banyak media yang hanya mengandalkan dua kaki untuk menopang kelangsungan hidup mereka. Dua kaki tersebut meliputi sirkulasi dan iklan. “Sekarang, mau tidak mau media harus bertumpu kepada lebih banyak kaki lagi,” ujarnya.

Padahal, ada banyak potensi penghasilan yang dapat diperoleh media. Misalnya, dari berlangganan (subscription), display advertising, native advertising (iklan teks), event, e-commerce, hingga penghasilan dari innovation project.

Dari newsroom, kata Tri, media perlahan berkembang ke arah newsbrand. Produk jurnalisme berkembang menjadi brand media secara keseluruhan. Ia memberi contoh, RCTI yang memiliki newsroom Seputar Indonesia. Kini, Seputar Indonesia berkembang menjadi produk cetak,

Jurnalis yang kerap bertemu dengan komunitas juga membuat newsbrands berkembang menjadi newscommunity. Newscommunity inilah yang kemudian berkembang menjadi newscommerce. “Hingga pada akhirnya, jurnalis tidak bisa bekerja sendiri, melainkan dibantu oleh bagian bisnis,” ujarnya.

Kolaborasi harus dijalankan seluruh internal media, bahkan dengan kompetitor. Tri menjabarkan ada tiga kompetitor media, yakni media lain baik satu grup maupun tidak, SEO, hingga influencer yang aktif di media sosial. “Jadi, kompetitor tidak hanya berasal dari sesama media, namun juga web perusahaan lain yang dari segi SEO lebih mudah ditemukan di halaman pencarian,” ujarnya.

Hingga terciptalah newscollaboration. “Mau tidak mau, kita harus menggandeng SEO dan influencer yang memiliki pengaruh besar di ranah publik,” ujarnya. Pada akhirnya, bukan hanya redaksi yang mendukung produk jurnalisme, tapi juga bisnis dan teknologi hingga terciptalah newsincorporation (newsincorp). Kesatuan ini tidak hanya menghidupi media, namun juga memberikan layanan yang lebih baik untuk masyarakat.

Konvergensi

Pada tahun 1995, Harian Kompas merintis Kompas on-line, yang pada akhirnya menjadi Kompas Cyber Media, lalu Kompas.com. Perkembangan berikutnya, ada epaper.Kompas.com, print.Kompas.com, dan Kompasiana.com. Sebelumnya, Kompas Gramedia juga mengembangkan sejumlah Koran daerah (kelompok Tribun), majalah, tabloid, tribunews.com, dan juga televisi (KompasTV dan Trans7). Menuju pada satu titik pertemuan atau konvergensi terus dilakukan dengan mengembangkan sumber daya manusia.

Sejak tahun 2017, Harian Kompas mengembangkan Kompas.id sebagai kepanjangan tangan digitalnya. Kompas.id adalah media digital berbayar dan premium. Kompas juga mengembangkan media sosial dan event untuk menopang jurnalisme. Saat ini registered users Kompas.id sudah mencapai lebih dari 900.000 orang.

Pengamat media Eriyanto mengatakan, era digital ditandai oleh terjadinya konvergensi atau pencampuran. Batas antara cetak, audio dengan visual sudah tidak ada lagi. Terjadi pencampuran baik dari sisi konten maupun industri. “Dari sisi konten, berita sudah bercampur dengan game, hiburan, dan sebagainya,” ujar Eri. Sementara dari sisi industri, ada empat sektor yang menjadi satu yakni  telekomunikasi, media, teknologi informasi, dan penjualan elektronik (e-commerce). (rvh)