Di Mana, sih, Peran PR dalam ESG?

PRINDONESIA.CO | Jumat, 20/05/2022
PR harus mampu mengidentifikasi berbagai risiko yang mungkin terjadi dalam roda perusahaan/organisasi. Baik itu risiko yang berhubungan dengan komponen lingkungan, sosial, maupun tata kelola.
Dok.Istimewa

Praktisi public relations (PR) memegang peranan vital dalam enviromental, social, and governance (ESG). Di mana perannya?

 

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Menurut pakar ESG, Herry Ginanjar, selain berperan untuk mengomunikasikan berbagai program berbasis ESG yang sedang atau telah dikembangkan oleh perusahaannya, keberadaan PR menjadi penting dalam ESG apabila mereka memiliki inisiatif.  Terutama, dalam hal aktif mencari tahu tentang permasalahan ESG yang sedang dihadapi korporasi atau organisasinya.

Dengan kata lain, kata Herry saat mengisi Coaching Clinic Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2022, Senin (25/4/2022), PR harus mampu mengidentifikasi berbagai risiko yang mungkin terjadi dalam roda perusahaan/organisasi. Baik itu risiko yang berhubungan dengan komponen lingkungan, sosial, maupun tata kelola.

Ibaratnya, Herry melanjutkan, PR harus memiliki daya mengendus yang tinggi. Contoh, apabila kegiatan operasi tidak melakukan pengendalian lingkungan yang baik, maka akan berpotensi menimbulkan pencemaran limbah. Pada akhirnya, memicu aksi demo dari warga sekitar. “Ini sudah merupakan risiko dalam ESG untuk masalah lingkungan,” ujar pria yang menjabat sebagai Duta Besar untuk Indonesia bagi International Association of Risk and Crisis Communication tersebut.

Praktisi PR berperan mendorong agar perusahaan menjadikan isu ini prioritas. Perusahaan pun berkomitmen untuk melakukan kegiatan operasional berbasis ESG. “Saat ini semakin banyak investor asing yang berinvestasi dengan melihat latar belakang performa ESG korporasi,” ujarnya.  

 

Indikator Keberhasilan

Berikut ini beberapa contoh penerapan komponen lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik di dalam perusahaan. Pada komponen lingkungan, perusahan harus sudah mulai mengidentifikasi adanya emisi karbon, memiliki lisensi energi, penggunaan energi terbarukan (energi di luar energi fosil dan energi angin, salah satunya energi listrik). Selain itu, perusahaan berkomitmen mengatasi masalah polusi udara, polusi air, menghindari pembukaan lahan dengan cara dibakar, memberdayakan keanekaragaman hayati, hingga mengelola limbah dengan baik dan sesuai prosedur.

Sementara di bidang sosial, perusahaan memastikan para pegawai terjamin mulai dari kesehatan, memiliki pekerjaan yang layak, hingga masa depan anak cucu mereka. Sedangkan di bagian tata kelola, perusahaan menjalankan green business, mengatasi permasalahan kesehatan dan keamanan, memiliki standar tenaga kerja yang baik, hingga memin kualitas produk tetap terjaga. Tata kelola juga berkaitan dengan cara perusahaan memastikan komisaris hingga pejabat eksekutif mencerminkan nilai-nilai DEI dan mengedepankan prinsip antikorupsi. 

Menurut Herry, indikator kesuksesan dari penerapan ESG di dalam sebuah organisasi dapat tercermin dari lima hal. Pertama, adanya penerimaan dari para pemangku kepentingan (stakeholder acceptance) yang lebih baik. Kedua, bertambahnya jangkauan eksternal (external outreach), seperti jumlah pelanggan ataupun jejaring.

Ketiga, pemanfaatan limbah. Contohnya, mengubah limbah plastik menjadi aspal. Keempat, karyawan menjadi lebih bahagia dan sehat. Kelima, tidak adanya korupsi. “Perusahaan menjalankan etika bisnis yang baik dan tidak menyebabkan kerugian negara,” pungkasnya. (ais)