Membangun Komunikasi Jernih dan Otentik

PRINDONESIA.CO | Minggu, 16/04/2023 | 1.181
Tahun 2023 berpotensi resesi, dan mungkin juga tahun penuh kegaduhan akibat situasi politik yang bakal memanas jelang pemilu legislatif dan pemilihan presiden.
www.freepik.com

Tahun 2023 kini mulai kita tapaki. Tahun yang dinilai oleh banyak orang akan menjadi “tahun sulit”, berpotensi resesi, dan mungkin juga tahun penuh kegaduhan akibat situasi politik yang bakal memanas jelang pemilu legislatif dan pemilihan presiden, Februari 2024 mendatang.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Apa pun prediksi yang muncul, “Tahun Kelinci” ini patut kita syukuri. Kendatipun bakal benar-benar menjadi tahun yang riuh rendah oleh kontestasi politik, tahun 2023 menjadi tahun yang sangat menentukan sukses tidaknya agenda politik 2024.

Setiap kesulitan selalu melahirkan peluang. Mari berkaca pada pandemi COVID-19. Di tengah situasi yang luar biasa sulit, tidak bisa ke mana-mana akibat pembatasan mobilitas warga, ekonomi sulit bergerak, banyak warga kesakitan, toh, bangsa ini bisa mengatasinya. Bahkan, kini tanda-tanda kesulitan sepanjang 2022 – 2022 nyaris telah musnah. Berganti gairah untuk beraktivitas sosial, budaya, dan ekonomi di seluruh penjuru negeri ini.

Komunikasi menjadi faktor penting yang membuat situasi kesulitan bisa berbalik menjadi kemudahan saat ini. Teknologi dengan segenap perkembangan produknya, telah menyediakan piranti bagi manusia untuk bisa selalu terhubung (berkomunikasi) kendati dalam keterbatasan gerak. Teknologi pula yang mendorong begitu banyaknya informasi beredar di beragam platform. Terutama digital.

Lalu lalang informasi menjadi riuh rendah. Ada yang pelan, namun tak sedikit yang bersuara kencang. Semua ingin didengar. Semua ingin diperhatikan. Tapi, tak mudah menempatkannya agar benarbenar bisa ditangkap publik, lalu dipahami dengan baik. Tebaran informasi itu bagaikan lebah yang mendengung, tanpa satu pun bisa dieja dengan jelas. Nadanya bahkan terdengar sama.

Mengeja informasi memang tidak mudah, terlebih jika berlimpah. Pada akhirnya, malah lebih banyak yang tumpah ruah, karena terlalu lubernya informasi yang harus dikunyah. Publik jadi bingung, kehilangan arah. Mau bertanya, tak tahu harus ke mana, karena pasokan informasi kebanyakan bernada sama.

Banyak, tidak selamanya mengindikasikan benar. Tak selamanya pula mengandung hal yang bijak, yang semuanya harus dituruti. Itulah sebabnya butuh hati-hati dalam mengalirkan informasi kepada publik. Terlebih, berkomunikasi tak sekadar menyampaikan informasi.

Jernih

Ada kejernihan yang dibutuhkan kala berkomunikasi dengan publik. Kejernihan memilih dan memilah informasi yang tepat dan relevan. Agar publik tidak kebingungan memamah informasi yang dibutuhkan oleh mereka. Bukan yang diinginkan. Bukankah tidak setiap keinginan itu adalah juga sebuah kebutuhan?

Kejernihan memilah informasi, membantu publik lebih awas menghadapi potensi hoaks, kabar burung, desas-desus, hingga berita palsu (fake news). Di masa-masa seperti tahun politik inilah kewaspadaan terhadap informasi sesat patut kita lipat gandakan. Terlalu mahal ongkos sosialnya jika publik diharu biru dengungan hoaks yang nyaris tiada henti. Hanya sekadar ingin merebut keinginan publik, bukan menyodorkan kebutuhan publik atas informasi.

Oleh karenanya, informasi juga membutuhkan bobot otentik. Informasi yang sah, berasal dari sumber kredibel dan dapat dipercaya. Informasi demikian sangat bernilai. Sangat berharga.

Informasi yang benar-benar jernih dan otentik inilah yang dibutuhkan publik. Terutama kala mengarungi situasi penuh kegaduhan dan ketidakpastian. Sebagaimana yang sepanjang tahun ini hingga 2024 bakal berlangsung. Tahun politik yang penuh kejutan. Tabik! (Asmono Wikan)