UNAIR Soroti Pentingnya Strategi Komunikasi Krisis Adaptif Lintas Generasi

PRINDONESIA.CO | Jumat, 29/05/2026
Universitas Airlangga (UNAIR) menekankan pentingnya strategi manajemen krisis yang adaptif dan berbasis komunikasi lintas generasi guna menjaga reputasi institusi di tengah dinamika ruang digital yang bergerak cepat.
Dok. UNAIR

Universitas Airlangga (UNAIR) menekankan pentingnya strategi manajemen krisis yang adaptif dan berbasis komunikasi lintas generasi guna menjaga reputasi institusi di tengah dinamika ruang digital yang bergerak cepat.

SURABAYA, PRINDONESIA.CO - Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Pusat Hubungan Masyarakat dan Protokol (PHMP) menggelar Pelatihan Manajemen Krisis bertajuk Memperkuat Ketangguhan Institusi dalam Penangguhan Isu dan Reputasi bagi perwakilan fakultas dan humas dari berbagai unit maupun lembaga di lingkungan kampus.

Pelatihan yang digelar di Auditorium Candradimuka, Gedung Nano, Kampus MERR-C UNAIR, Surabaya, Jumat (22/5/2026) itu menghadirkan praktisi komunikasi publik dan personal branding Jimmy Gunawan Kosasih yang membawakan materi bertajuk Effective Communication in Crisis Recovery.

Dalam pemaparannya, Jimmy menegaskan bahwa manajemen krisis tidak hanya berfokus pada penyelesaian masalah ketika krisis terjadi. "Tetapi juga bagaimana institusi mampu membangun kesiapan dan ketangguhan sejak tahap early anticipation," ujar Jimmy dilansir laman resmi UNAIR, Jumat (22/5/2026).

Menurutnya, manajemen krisis berlangsung melalui sejumlah tahapan, mulai dari identifikasi masalah, pemberian respons, pembangunan langkah proaktif dan kolaboratif, penanggulangan krisis, hingga pemulihan citra institusi. Ia menyebut, tiap tahap itu membutuhkan strategi komunikasi yang tepat agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Jimmy juga menyoroti pentingnya komunikasi efektif dalam proses pemulihan krisis. Ia menilai institusi perlu mengedepankan komunikasi berbasis empati, komunikasi dua arah yang adaptif, serta penguatan narasi institusi agar pesan dapat diterima publik secara tepat. "Ketika krisis terjadi, publik membutuhkan informasi yang jelas, cepat, dan konsisten. Karena itu, komunikasi harus berjalan secara terarah dan tetap mengedepankan empati,” tuturnya.

Respons “Real Time”

Jimmy menambahkan, setiap respons komunikasi yang disampaikan institusi akan memengaruhi persepsi publik terhadap kredibilitas organisasi. Oleh karena itu, kata dia, pengelolaan komunikasi yang baik dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga citra sekaligus memperkuat hubungan dengan publik di tengah situasi krisis.

Selain membahas strategi komunikasi, pelatihan tersebut juga mengangkat tantangan komunikasi lintas generasi di lingkungan institusi. Jimmy menjelaskan, perbedaan karakter dan gaya komunikasi antargenerasi menuntut organisasi menerapkan pendekatan komunikasi yang lebih adaptif.

Menurut Jimmy, manajemen krisis modern kini membutuhkan respons secara real time, pemanfaatan data digital, serta transparansi komunikasi kepada publik. "Institusi harus mampu menyesuaikan pola komunikasi dengan perkembangan zaman agar pesan dapat diterima dengan baik oleh setiap generasi,” terangnya.

Lebih lanjut, ia juga menegaskan pentingnya kecepatan dan konsistensi komunikasi, khususnya pada fase golden hour krisis. Jimmy menekankan bahwa hal itu perlu menjadi perhatian penting bagi perusahaan atau organisasi demi menjaga kepercayaan publik. "Institusi perlu bergerak cepat dan konsisten dalam komunikasi. Terutama pada fase golden hour krisis agar kepercayaan publik tetap terjaga di setiap situasi,” pungkasnya. (Fadhil Pramudya)