Perubahan lanskap media digital menuntut perguruan tinggi membangun sistem komunikasi krisis yang lebih adaptif, berbasis data, dan mampu mengelola dinamika informasi agar reputasi institusi tetap terjaga di tengah derasnya arus percakapan publik.
MALANG, PRINDONESIA.CO – Komunikasi krisis di lingkungan perguruan tinggi tidak lagi cukup mengandalkan klarifikasi ketika sebuah isu muncul. Di era media sosial yang digerakkan algoritma, institusi pendidikan dituntut mampu mengantisipasi perkembangan isu, mengelola narasi secara strategis, serta memanfaatkan data sebagai dasar pengambilan keputusan komunikasi.
Perspektif tersebut mengemuka dalam Workshop Krisis Komunikasi Perguruan Tinggi bertajuk "Penguatan Strategi Manajemen Komunikasi Krisis dan Peningkatan Daya Saing Menuju Anugerah Diktisaintek Tahun 2026" yang diselenggarakan Divisi Informasi dan Kehumasan Universitas Brawijaya (UB), Rabu (1/7/2026), di Aula Fakultas Ilmu Budaya. Workshop tersebut menghadirkan Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional Universitas Indonesia (UI) Erwin Agustian Panigoro, untuk berbagi praktik terbaik pengelolaan komunikasi krisis di perguruan tinggi.
Dalam sesi bertajuk "Sharing Best Practices Manajemen Krisis Kampus Universitas Indonesia", Erwin menjelaskan, paradigma komunikasi krisis telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya institusi cenderung berfokus pada penyampaian klarifikasi, kini pengelolaan krisis harus diawali dengan pemahaman terhadap cara informasi bergerak dan berkembang di ruang digital.
Menurutnya, siklus sebuah isu saat ini berlangsung jauh lebih cepat karena dipengaruhi oleh algoritma media sosial yang menentukan seberapa luas sebuah informasi tersebar dan bagaimana persepsi publik terbentuk.
Oleh karena itu, katanya, penyelesaian suatu kasus di perguruan tinggi mesti mampu memanfaatkan perhatian publik yang sedang berlangsung atau riding the wave. "Artinya, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi pihak yang bereaksi terhadap isu tetapi harus mampu mengelola momentum komunikasi agar informasi yang benar dapat menjangkau publik secara optimal," ujar Erwin, dikutip dari laman resmi UB, Kamis (2/7/2026).
Erwin pun menilai strategi komunikasi pada era algoritma menuntut pengelola humas memahami karakteristik setiap platform digital. Ketika isu berkembang, lanjutnya, kecepatan penyampaian informasi harus diimbangi dengan relevansi pesan serta konsistensi narasi agar institusi tetap menjadi sumber informasi yang kredibel. Dengan demikian, komunikasi tidak sekadar menjadi respons terhadap krisis, tetapi juga instrumen untuk membentuk persepsi publik secara positif.
Koordinasi Internal
Selain kemampuan membaca dinamika ruang digital, ia menekankan bahwa efektivitas komunikasi krisis juga bergantung pada koordinasi internal organisasi. Menurutnya, setiap unit di perguruan tinggi harus memiliki mekanisme kerja yang terintegrasi, mulai dari identifikasi isu, pemetaan risiko, proses pengambilan keputusan, hingga penyusunan strategi komunikasi kepada publik.
Dalam kesempatan tersebut, Erwin juga memperkenalkan pemanfaatan dashboard analitik sebagai instrumen pendukung pengambilan keputusan komunikasi. Teknologi tersebut memungkinkan institusi memantau percakapan publik secara real-time, menganalisis sentimen masyarakat, mengidentifikasi aktor yang memengaruhi penyebaran informasi, sekaligus mengevaluasi efektivitas komunikasi yang telah dilakukan.
Pendekatan berbasis data, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam manajemen komunikasi krisis modern. Dengan dukungan analitik, organisasi dapat menyusun strategi komunikasi berdasarkan fakta dan perkembangan isu di lapangan, bukan sekadar asumsi atau intuisi.
Sebagai bagian dari praktik yang diterapkan di Universitas Indonesia, Erwin turut memaparkan pembangunan sistem komunikasi krisis yang terintegrasi melalui penyusunan prosedur operasional standar (SOP), pembentukan tim respons cepat, pelaksanaan media monitoring secara real time, hingga evaluasi pascakrisis sebagai bagian dari proses pembelajaran organisasi. Sistem tersebut memungkinkan institusi bergerak lebih cepat dan terkoordinasi ketika menghadapi isu yang berpotensi memengaruhi reputasi universitas. (Fadhil Pramudya)
- BERITA TERKAIT
- Hadapi Dinamika Algoritma, Komunikasi Krisis Kampus Perlu Adaptif
- Akademisi dari Berbagai Negara Soroti Tantangan Komunikasi Digital di Era AI
- Mahasiswa UGM Kembangkan AI untuk Bantu Pemetaan Isu dan Strategi Komunikasi
- Akademisi UGM Tekankan Komunikasi Inklusif Dimulai dari Informasi yang Setara
- IPB Tegaskan Lagi Respons Cepat dan Empati Saat Krisis Kunci Kepercayaan Publik