Humas Perguruan Tinggi Perlu Strategi Komunikasi Adaptif untuk Jaga Reputasi

PRINDONESIA.CO | Rabu, 08/07/2026
Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Bahan Publikasi dan Dokumentasi Informasi yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV, di Kupang, NTT, Kamis (25/6/2026).
Dok. Humas Undana.

Reputasi perguruan tinggi di era digital makin ditentukan oleh kemampuan humas dalam mengelola komunikasi yang terencana, adaptif, dan mampu menjaga kepercayaan publik di tengah kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat dan akurat.

KUPANG, PRINDONESIA.CO – Penguatan reputasi perguruan tinggi tidak lagi cukup mengandalkan capaian akademik semata. Di tengah perkembangan teknologi digital, humas dituntut mampu menyusun strategi komunikasi yang efektif, mengelola risiko reputasi, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar kepercayaan publik terhadap institusi tetap terjaga.

Hal tersebut mengemuka dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Bahan Publikasi dan Dokumentasi Informasi yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV di Kupang. Dalam forum tersebut, Hubungan Masyarakat (Humas) Universitas Nusa Cendana (Undana) membagikan praktik penguatan manajemen risiko reputasi kepada pengelola kehumasan perguruan tinggi swasta (PTS).

Sub-Koordinator Humas Undana Ollien Manggol saat menyampaikan materi bertajuk Membangun Citra Positif Perguruan Tinggi Melalui Diseminasi Informasi yang Efektif, mengatakan, pengelolaan reputasi perguruan tinggi pada era digital membutuhkan strategi komunikasi yang dirancang secara matang, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta didukung kolaborasi yang kuat dengan berbagai pihak. "Kunci utamanya terletak pada kedisiplinan menerapkan manajemen risiko reputasi, perencanaan kerja yang terstruktur melalui kalender humas, serta keberanian membangun kolaborasi yang setara dengan media mitra," katanya dilansir ANTARA News, Senin (29/6/2026).

Menurut Ollien, tantangan yang dihadapi humas perguruan tinggi makin kompleks seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang cepat, akurat, dan mudah diakses. Kondisi tersebut, lanjut dia, menuntut praktisi humas untuk terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi sekaligus menerapkan strategi komunikasi yang mampu menjaga kepercayaan publik terhadap institusi.

Garda Terdepan

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Kerja Humas dan Sekretariat Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) LLDikti Wilayah XV Jasinta F. P. Swan menegaskan, fungsi humas kini berkembang menjadi bagian strategis dalam mendukung reputasi institusi. "Humas bukan lagi sekadar unit dokumentasi atau pengelola media sosial, tetapi menjadi strategic communication office yang membangun reputasi institusi dan menjadi garda terdepan menghadapi dinamika informasi di era digital," ujar dia.

Selain membahas strategi komunikasi, forum tersebut juga mengulas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung aktivitas kehumasan. Para narasumber menilai AI dapat meningkatkan efisiensi dalam proses produksi konten publikasi. Namun demikian, penggunaannya tetap harus mengedepankan etika, akurasi data, serta verifikasi informasi oleh insan humas agar kualitas informasi yang disampaikan kepada publik tetap terjaga.

Adapun bimbingan teknis tersebut diikuti para pengelola publikasi dan dokumentasi informasi dari berbagai perguruan tinggi swasta di bawah naungan LLDikti Wilayah XV sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas kehumasan di lingkungan perguruan tinggi.

Melalui kegiatan tersebut, LLDikti Wilayah XV berharap kapasitas kehumasan perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur semakin meningkat. Dengan demikian, publikasi mengenai capaian akademik, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat dapat menjangkau publik secara lebih luas sekaligus mendukung penguatan reputasi perguruan tinggi di daerah. (Fadhil Pramudya)