Etika Komunikasi Jadi Kunci Cegah Praktik “Greenwashing”

PRINDONESIA.CO | Selasa, 07/07/2026
Meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan membuat perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan narasi ramah lingkungan. Komunikasi keberlanjutan kini dituntut berlangsung secara etis, transparan, dan berbasis bukti agar mampu menjaga kepercayaan publik sekaligus menghindari praktik greenwashing.
Dok. Magnific.

Meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan membuat perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan narasi ramah lingkungan. Komunikasi keberlanjutan kini dituntut berlangsung secara etis, transparan, dan berbasis bukti agar mampu menjaga kepercayaan publik sekaligus menghindari praktik greenwashing.

YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO – Di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap isu lingkungan, tantangan komunikasi keberlanjutan tidak lagi sebatas menyampaikan komitmen perusahaan terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Organisasi juga dituntut memastikan setiap klaim keberlanjutan didukung data yang dapat dipertanggungjawabkan agar tidak berubah menjadi greenwashing yang berisiko menggerus kepercayaan publik.

Dikupas dalam kegiatan DIBKOM (Diskusi Bareng Komunikasi) bertajuk "CSR dan Greenwashing dalam Perspektif Komunikasi Keberlanjutan", yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Rabu (1/7/2026), General Manager Prospect Institute Titis Puspita Dewi menjelaskan, meningkatnya perhatian masyarakat terhadap krisis iklim turut mengubah ekspektasi publik terhadap komunikasi perusahaan.

Menurutnya, publik tidak lagi hanya menilai bagaimana organisasi menyampaikan pesan keberlanjutan, tetapi juga mencermati kesesuaian antara narasi yang dibangun dengan praktik yang dijalankan. "Kami melihat saat ini banyak perusahaan terjebak dalam memoles citra luar tanpa membenahi substansi bisnisnya. Melalui kolaborasi dengan mitra akademik seperti UNISA Yogyakarta, kami ingin memastikan bahwa prinsip transparansi radikal dipahami sejak bangku kuliah," ujar Titis dilansir KR Jogja, Jumat (3/7/2026).

Ia menilai, praktik greenwashing tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai persoalan etika periklanan. Lebih dari itu, lanjut dia, komunikasi yang tidak didukung fakta berpotensi menurunkan kredibilitas organisasi sekaligus melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap komitmen keberlanjutan yang disampaikan. "Saat ini konsumen dan investor sudah makin cerdas. Klaim ramah lingkungan yang bombastis tanpa didukung oleh data audit yang sahih justru akan menjadi bumerang bagi reputasi perusahaan," jelas dia.

Tiga Pilar Komunikasi Keberlanjutan

Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Titis menjelaskan, Prospect Institute memperkenalkan kerangka komunikasi keberlanjutan yang menempatkan transparansi dan akuntabilitas sebagai prinsip utama. Kerangka tersebut mencakup tiga pilar penting, yaitu komunikasi berbasis bukti (evidentiary communication), keseimbangan narasi (balanced reporting), serta dampak transformatif.

Melalui pendekatan komunikasi berbasis bukti, setiap klaim mengenai dampak lingkungan didorong agar dapat diverifikasi melalui data ilmiah maupun sertifikasi dari pihak ketiga yang independen. Sementara itu, konsep balanced reporting menekankan pentingnya menyampaikan tidak hanya keberhasilan program keberlanjutan, tetapi juga tantangan yang masih dihadapi organisasi dalam proses implementasinya.

Kemudian, dampak transformatif bermakna bahwa program CSR mesti berfokus pada pemberdayaan jangka panjang alih-alih hanya sekadar pemenuhan formalitas atau kegiatan filantropi sesaat.

Adapun kolaborasi ini disambut hangat oleh pihak UNISA Yogyakarta yang juga tengah gencar mempromosikan kampus hijau melalui indikator global seperti UI GreenMetric dan Times Higher Education (THE) Impact Rankings.

Melalui forum tersebut, Prospect Institute bersama UNISA Yogyakarta berharap mahasiswa sebagai calon praktisi komunikasi dapat memiliki pemahaman yang lebih kuat mengenai etika komunikasi keberlanjutan. Tak hanya itu, diskusi tersebut diharapkan juga dapat memperkuat komitmen untuk menularkan semangat keberlanjutan di dunia pendidikan. (Fadhil Pramudya)