Humas UPNVJ Implementasikan Kerangka RACE Demi Perkuat Komunikasi Strategis

PRINDONESIA.CO | Kamis, 22/10/2026
Focus Group Discussion (FGD) strategi kehumasan bertajuk “Jalan Panjang Komunikasi Menuju Trustworthiness” pada Senin (19/10/2026).
doc/UPNVJ

Ketua Tim Pengelolaan Media UPNVJ Helmi Fajar Andrianto menekankan bahwa komunikasi PR yang berbasis data didukung dengan model kerangka RACE menjadi kunci membangun reputasi institusi serta menghimpun kepercayaan publik.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Kepercayaan publik tidak bisa dibentuk hanya dengan publikasi atau citra positif yang ditampilkan institusi tanpa komunikasi yang terencana, konsisten, dan didukung data. Hal ini ditegaskan Tim Hubungan Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) dalam Focus Group Discussion (FGD) strategi kehumasan bertajuk “Jalan Panjang Komunikasi Menuju Trustworthiness” pada Senin (19/10/2026).

Diketahui bahwa forum tersebut membahas penguatan komunikasi institusi yang terukur, pengelolaan reputasi, serta kesiapan menghadapi isu dan krisis komunikasi. Disampaikan oleh Ketua Tim Pengelolaan Media UPNVJ Helmi Fajar Andrianto, dalam konteks hari ini kepercayaan memerlukan proses panjang yang menghubungkan identitas, citra, dan reputasi institusi dengan kualitas tindakan serta konsistensi komunikasi.

Kepercayaan, menurut kerangka yang dipaparkan Helmi, wajib bertumpu pada tiga unsur, yakni kemampuan (ability), niat baik (intention), dan integritas (integrity). “Setiap institusi perlu menunjukkan kompetensi dalam menjalankan tanggung jawab, keberpihakan terhadap kepentingan pemangku kepentingan, serta keselarasan antara pernyataan dan tindakan,” jelasnya dikutip dari laman resmi UPVNJ, Senin (19/10/2026).

“RACE” Pada Kerangka Komunikasi Strategis

Dalam konteks perguruan tinggi, lanjut Helmi, hal tersebut tercermin melalui kualitas layanan, keterbukaan informasi, dan respons terhadap kebutuhan sivitas akademika maupun masyarakat. Untuk menerjemahkan prinsip tersebut ke dalam praktik, Helmi menguraikan model RACE (Research, Action, Communication, Evaluation) sebagai kerangka komunikasi strategis.

Prosesnya dimulai dengan riset (research) untuk memahami karakteristik audiens, memantau isu, serta menghimpun masukan melalui survei dan diskusi dengan pemangku kepentingan. Temuan tersebut, kata Helmi, kemudian menjadi dasar penyusunan tujuan, pesan utama, kelompok sasaran, dan pemilihan kanal komunikasi.

Setelah pesan disampaikan (communication), maka tahap evaluasi (evaluation) dilakukan melalui pemantauan pemberitaan, analisis respons audiens, serta survei persepsi dan kepuasan. “Dengan keempat siklus ini, keberhasilan public relations (PR) tidak hanya diukur dari jumlah publikasi, tetapi juga dari pemahaman audiens dan perubahan strategi berdasarkan hasil evaluasi,” jelasnya.

Pentingnya tahapan tersebut diperkuat oelh penelitian yang dilakukan Niken dan Rino bertajuk The Information of Government’s Social Media and Websites to Citizen Engagement in Indonesia (2023), yang diterbitkan dalam Mediator: Jurnal Komunikasi. Dalam penelitian survei kuantitatif terhadap 263 responden itu, ditemukan bahwa adanya relevansi kanal digital pemerintah sebagai sarana untuk membangun transparansi dan mendorong hubungan dengan masyarakat.

Temuan tersebut menguatkan pentingnya pengelolaan kanal komunikasi yang bukan hanya aktif menyebarkan informasi, tetapi juga menjawab kebutuhan publik secara jelas dan relevan. (Evira Anyelia)