FTIK USM Gelar LKMM-TD, Dorong Keterampilan Kepemimpinan dan Komunikasi Maba

PRINDONESIA.CO | Selasa, 27/10/2026
Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (USM) menyelenggarakan kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD).
doc/USM

Kegiatan ini diharapkan dapat membentuk karakter diri mahasiswa untuk berkomunikasi secara efektif, berpikir kritis serta membangun kepemimpinan yang nantinya dapat berkontribusi pada Universitas Semarang.

SEMARANG, PRINDONESIA.CO – Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (USM) menyelenggarakan kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD), pada hari Rabu (21/10/2026) di Auditorium Universitas Semarang. Kegiatan ini ditujukan untuk membekali mahasiswa baru (maba) dengan keterampilan kepemimpinan, komunikasi, dan berpikir kritis guna menghadapi tantangan akademik dan organisasi.

Sebagaimana disampaikan Ketua pelaksana LKMM-TD Geoge Calvin Kenda, kegiatan bertemakan Step into Your Own Adventure: Growing, Connecting, and Becoming Legends Together ini dirancang untuk memberikan pembekalan keterampilan dasar pada aspek critical thinking, problem solving, dan public speaking. “Harapannya, para maba dapat memanfaatkan materi untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis dan mengenali diri sendiri sekaligus mampu membangun serta menjaga koneksi dengan sesama mahasiswa agar terus berkembang selama menjalani perkuliahan,” ujar George, dikutip dari laman resmi USM, Rabu (21/10/2026).

Kunci Keberhasilan Komunikasi

Hadir dalam kesempatan tersebut, co-founder Think PR Sinta Pramucitra memaparkan pentingnya komunikasi efektif dan keberhasilan komunikasi. Menurut Sinta, keberhasilan komunikasi tidak hanya diukur dari banyaknya seseorang berbicara tetapi dari sejauh mana pesan dapat dipahami dengan tepat oleh penerima serta bagaimana seseorang memperlakukan orang lain selama proses komunikasi berlangsung.

Sinta turut mengajak para maba untuk lebih bijak dalam memilih kata-kata termasuk mempertimbangkan apakah suatu pernyataan perlu disampaikan dan bagaimana dampaknya terhadap orang lain. “‘Perlu membiasakan diri mengolah kalimat sebelum menyampaikan pesan agar informasi yang diberikan jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman, serta kemampuan juga perlu disertai kesadaran dalam menggunakan bahasa verbal maupun nonverbal, mendengarkan secara aktif, menyampaikan pendapat dengan baik, dan mengelola emosi ketika menghadapi perbedaan pandangan,” tuturnya.

Senada dengan Sinta, Business Director Trisaska Komunika M. KH Rachman Ridhatullah dalam Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Manajemen Krisis Perguruan Tinggi di Era Digital besutan HUMAS INDONESIA, beberapa waktu lalu sempat menegaskan, bahwa pilihan kata yang empatik, terstruktur, mudah dipahami akan membantu audiens memahami tujuan sekaligus mengurangi potensi kesalahpahaman.

Dalam konteks menyampaikan pesan, pria yang akrab disapa Aman itu menilai, setiap orang apalagi praktisi komunikasi perlu memerhatikan pemilihan diksi dari apa yang ingin disampaikan (what to say). “Selain itu, kita juga perlu memerhatikan bagaimana cara menyampaikan pesan tersebut  (how to say) dengan tepat,” jelasnya. (Evira Anyelia)