Siapa yang Sebaiknya Jadi Juru Bicara saat Krisis? (Bag 5) CEO Maju, tapi dengan Syarat

PRINDONESIA.CO | Selasa, 07/08/2018
"Kalau sudah terjadi krisis, CEO yang harus maju," ujar Noke Kiroyan
Roni/PR Indonesia

Noke Kiroyan, Presiden Komisaris Kiroyan Partners, punya pandangan sendiri tentang siapa yang harus maju jadi juru bicara ketika terjadi krisis.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Sosok pendiri konsultan jasa Kiroyan Partners Public Affairs ini menekankan bahwa CEO harus berani tampil di hadapan publik ketika krisis menghantam perusahaan. Prinsip inilah yang ia jalani saat menjadi CEO di berbagai industri mulai dari pertambangan, oleochemicals, sampai energi dan teknologi inovatif. “Kalau urusan operasional, biarlah PR yang menangani. Tapi, kalau sudah terjadi krisis, CEO yang harus maju,” katanya.

Oleh karena itu, penting bagi CEO memiliki kemampuan berkomunikasi, berdiplomasi, bahkan media handling. Noke bahkan sengaja melakukan simulasi bersama timnya agar dapat menghadapi pertanyaan-pertanyaan media. Terutama, saat ia dicegat wartawan yang hendak melakukan door stop interview. Bersama timnya, ia juga berdiskusi untuk menentukan pesan kunci. 

Lainnya tak kalah penting adalah adanya issues management dan Standard Operating Procedure (SOP). Kedua instrumen ini wajib dimiliki dan menjadi pedoman agar perusahaan dapat melewati ‘badai’ dengan baik.   

Pandangan Noke yang menekankan CEO sebagai juru bicara ketika krisis sesuai argumen Gerard Braud yang pertama. Berdasarkan argumen ini, CEO harus memiliki kesiapan dalam memberikan pernyataan kepada media, terutama di jam-jam pertama krisis. Namun, argumen ini harus diikuti dengan kemampuan CEO berhadapan dengan media. Sebab ketika CEO salah bicara, kredibilitas dan reputasi perusahaanlah yang menjadi taruhan. (suf)