Ceritakanlah Sisi Kemanusiaan

PRINDONESIA.CO | Selasa, 26/03/2019 | 1.051
Jika ingin mengubah seseorang, ubahlah apa yang mereka rasakan bukan yang mereka pikirkan
Ratna/PR Indonesia

Banyak perusahaan yang sibuk meyakinkan publik jika produk mereka lebih unggul dan paling keren. Cara ini adalah kesalahan besar.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Menurut Marianne Admardatine, CEO J. Walter Thompson (JWT) Company Indonesia, inti dari storytelling adalah human first. “Maksudnya, mengutamakan dari sisi manusianya, mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh target audiens kita,” katanya di hadapan para peserta PR INDONESIA Outlook (PRIO) 2019, penuh semangat.

Ia berpendapat di masa kini jika ingin mengubah seseorang, ubahlah apa yang mereka rasakan bukan yang mereka pikirkan. Sentuhlah emosinya. “Model bisnis saat ini bukan lagi soal menunjukkan keunggulan apalagi sekadar jualan. Tapi, mengedepankan kontribusi yang sudah diberikan perusahaan kepada masyarakat,” ujarnya.

Relevansi pun memainkan peran tak kalah penting. “Di era seperti sekarang, jika produk kita tidak memiliki relevansi, audiens tidak akan peduli,” imbuhnya. Nah, untuk dapat menemukan relevansi, galilah insight sebanyaknya. Lakukan langkah ini setiap enam bulan sampai setahun sekali sehingga brand bisa beradaptasi sesuai kebutuhan audiens.


Marianne lantas memberikan empat tips ketika akan melakukan storytelling. Antara lain, find the insight, adapting to the current needs, disrupting, focus on experience. “Buat brand kita bisa beradaptasi sesuai kebutuhan audiens, cari koneksi/keterkaitannya, buat naskah yang mampu menyentuh emosi mereka, tapi kontennya tidak menyinggung,” ujarnya. Ia melanjutkan, “Bangun engagement, lakukan disrupsi dengan mengomunikasikannya ke banyak kanal komunikasi,” katanya seraya mengimbau agar PR mengukur performa media sosial yang sudah dilakukan. (rtn)

 

Selengkapnya baca PR INDONESIA versi cetak dan SCOOP edisi 46/ Januari 2019Hubungi Sekhudin: 0811-939-027, [email protected]