Energi Kebaikan

PRINDONESIA.CO | Rabu, 13/10/2021 | 3.117
Di masa normal, energi kebaikan sang pemimpin akan meningkatkan kepercayaan tim kepadanya, sehingga metode kepemimpinannya secara internal akan mendapat kepatuhan dan soliditas tim.

Kehebatan pemimpin itu antara lain diukur oleh kemampuannya menyatukan perbedaan di dalam organisasinya, agar menjadi aset-aset komunal yang dapat melahirkan energi kebaikan dan produktivitas yang menyejahterakan anggotanya. Bukan justru sebaliknya, menarik perbedaan ke dalam silo-silo yang melahirkan friksi dan membangun narasi-narasi dramatik yang tak ada gunanya.

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Konon, ujian terbesar bagi seorang pemimpin itu datang ketika organisasi yang tengah ia pimpin mengalami masalah. Menghadapi krisis. Besar pula. Sehingga mampu menyedot begitu banyak sumber daya organisasi: finansial, SDM, dan berbagai fasilitas yang ada. Pada saat itulah, naluri dan kompetensi kepemimpinan seseorang diuji. Apakah ia mampu mengelolanya dengan baik? Atau justru bersikap tenang laiknya bisnis baik-baik saja tak ada masalah? Atau pula malah mengundurkan diri, tak sanggung menghadapinya?

Bagi pemimpin yang berani dan mampu menghadapinya, umumnya bukan semata karena kecerdasannya pribadi mengelola krisis atau masalah. Selalu karena adanya kombinasi antara kemampuan personal kepemimpinan yang ia miliki dan berpadu dengan kompetensi tim, serta dukungan publik/pasar/konsumen. Untuk mendapatkan formula tangguh demikian, tentu bukan hal mudah. Ada investasi jangka panjang, setidaknya beberapa tahun, yang dibangun oleh sang pemimpin kepada timnya dan publik.

Investasi itu antara lain berupa energi kebaikan. Menanam kebaikan kepada seluruh anggota tim di dalam organisasi maupun pemangku kepentingan eksternal, sungguh sangat berharga. Di masa normal, energi kebaikan sang pemimpin akan meningkatkan kepercayaan tim kepadanya, sehingga metode kepemimpinannya secara internal akan mendapat kepatuhan dan soliditas tim. Sementara secara eksternal, akan meningkatkan reputasi sang pemimpin dan organisasinya di mata publik. Pemimpin dan organisasi yang menabur kebaikan, akan dikenal sebagai peduli, komitmen, terpercaya, hingga kredibel.

Tantangannya adalah bagaimana pemimpin bisa secara konsisten menanam, menyebarkan, dan mengonsolidasikan energi kebaikan yang ia miliki. Salah satu yang sangat mungkin dilakukan adalah mencoba mencari sebanyak mungkin kesamaan diantara tim dengan dirinya dan meminimalisasi sekecil mungkin terjadinya perbedaan. Tentu saja bukan perbedaan gagasan. Melainkan perbedaan visi, misi, dan tujuan untuk bekerja di dalam sebuah organisasi. Karena perbedaan visi dan tujuan antara pemimpin dan timnya, sungguh sangat sulit untuk dikelola, ketimbang perbedaan gagasan untuk pengembangan produk, misalnya.

 

Atmosfer Produktivitas

Perbedaan gagasan adalah berkah, karena justru menciptakan atmosfer produktivitas yang tinggi. Jika dikelola dengan baik oleh sang pemimpin, justru akan menghasilkan kekayaan pandangan, kepercayaan tim kepada dirinya bahwa ia menghargai setiap inisiatif dan gagasan tim. Ketika pada akhirnya gagasan-gagasan tersebut menyatu, hasilnya adalah sebuah energi besar yang datang dari bawah, yang bakal menyumbang produktivitas bagi organisasi.

Sebaliknya, ketika pemimpin melihat perbedaan gagasan sebagai isu negatif, yang terjadi adalah potensi ganggungan stabilitas tim. Karena pemimpin tersebut justru akan membangun sekat-sekat primordialisme yang tak ada gunanya. Menarik garis antara like and dislike. Menciptakan ragam isu receh untuk mengeluarkan anggota tim yang tidak menyetujui gagasannya atau tak seirama dengannya. Meskipun, si anggota tim tegak lurus terhadap visi dan misi organisasi.

Pemimpin demikian inilah yang kerap melahirkan drama-drama kepemimpinan internal yang malah menggembosi kekokohan organisasinya. Sungguh tak elok jika dibiarkan berkelanjutan. Selain merusak reputasi organisasinya sendiri, juga karena sudah tak masanya lagi pemimpin mengampanyekan silo-silo di dalam timnya, di tengah dinamika bisnis yang penuh ketidakpastian. Alih-alih bermain drama, alangkah baiknya menuntun timnya bersatu-padu mengolah perbedaan gagasan menjadi kreativitas tak berbatas, yang berujung kredibilitas dari publik secara luas.

Menjadi pemimpin memang tidak mudah. Tapi, percayalah, pemimpin yang sudi menebar kebaikan secara konsisten, niscaya akan relevan mengelola kepemimpinannya di lintasan zaman apapun. Tabik! (Asmono Wikan)