Komunikasi Empatik: Komunikasi dari Hati

PRINDONESIA.CO | Selasa, 19/10/2021
Kondisi pandemi sudah semestinya menjadi laboratorium besar bagi para praktisi public relations (PR) untuk gencar melakukan komunikasi empatik. Bukan malah sebaliknya, sibuk jualan, mengabaikan fenomena, krisis, dan permasalahan yang sedang dihadapi oleh orang lain serta masyarakat.
Dok.Istimewa

Pandemi COVID-19 merupakan masa bagi bagi brand/korporasi untuk tampil sebagai brand yang humanis, melakukan komunikasi empatik, serta berkomunikasi dari hati.

 

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Ibarat peribahasa, put yourself in other people’s shoes (menempatkan diri pada sepatu orang lain), definisi inilah yang dianggap tepat menggambarkan makna dari komunikasi empatik. Secara teori, kita mengenal empati sebagai bagian dari komunikasi interpersonal.

Komunikasi empatik dinilai memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar simpatik. “Sebab, yang bersangkutan mau merasakan penderitaan yang dialami oleh orang lain,” kata Jojo S. Nugroho, Managing Director IMOGEN PR secara virtual, Jumat (13/8/2021).

Pada dasarnya, praktik komunikasi empatik ini bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan, sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Seperti halnya, budaya gotong royong, tenggang rasa, menjalankan ibadah puasa, membayar zakat dalam agama Islam, hingga makna kasih dalam agama Kristen.