Komunikasi Empatik: Sejalan dengan Perubahan Perilaku

PRINDONESIA.CO | Selasa, 09/11/2021
Ketika publik eksternal sudah terikat secara emosional dengan korporasi atau brand, mereka cenderung menjadi loyalis.
Dok.Istimewa

Komunikasi empatik sangat relevan dengan keberlanjutan usaha korporasi dan pemerintah dalam mengatasi pandemi. Hal ini tercakup dalam behavioral change communication atau komunikasi perubahan perilaku.

 

JAKARTA, PRINDONESIA - Hal inilah yang diungkapkan oleh founder dan CEO Media Buffet PR Bima Marzuki kepada PR INDONESIA secara tertulis, Minggu (22/8/2021). Bagi Bima, empati adalah try to put yourself in their shoes. Atau, sebelum berbicara, hendaklah kita mencari tahu keadaan lawan bicara. Kalau lawan bicara kita lagi marah, kita harus bisa mendinginkan suasana. “Jika lawan bicara sedih, kita jangan cengegesan,” ujarnya. “Inilah logika sederhana yang selaras dengan norma di Indonesia dan sudah tertanam sejak kecil pada kita,” imbuhnya.

Menurut Bima, komunikasi empatik saat ini bukan cuma penting, tapi sudah jadi checklist nomor satu saat seorang PR menyusun pesan. Apalagi saat kondisi pandemi seperti sekarang. Semua komunikator yang belum paham dengan logika komunikasi ini seharusnya tidak dulu bicara ke publik atau sekadar terlibat dalam penyusunan pesan. Karena, dikhawatirkan kerusakannya bakal lebih besar daripada positifnya.

Kerusakan komunikasi empatik ini terlihat antara pemerintah dengan publik. Hal ini tampak dari ucapan meremehkan seperti kata kunci “terkendali” di saat masyarakat kehilangan kerabatnya yang tidak mendapat oksigen dan rumah sakit. “Termasuk menteri yang memberi penghargaan kepada sinetron sampai menteri yang men-tweet sedang menonton sinetron,” ujarnya.